Judul : KRAKATOA THE LAST DAY
Director : Sam Miller
Cast : Rupert Penry-Jones, Olivia Williams, Kevin McMonagle, Ramon Tikaram, David Dennis
Language : English, Indonesian
Release Date : 7 May 2006
Running Time : 1 hour 27 minutes
kelompok : Mu’allim Syukri Khamid (09410168)
Melalui film spektakuler ini yang diproduksi oleh BBC-TV, kita akan tahu lebih banyak tentang Krakatau. Dan kita juga akan belajar beberapa fakta serta catatan sejarah Krakatau dan orang-orang yang tinggal di dekat gunung berapi itu. Krakatoa: The Last Day - atau juga dikenal sebagai Krakatau: Volcano of Destruction - adalah docudrama yang berarti kita akan melihat beberapa dramatisasi dari catatan sejarah tetapi tetap dengan akurasi ilmiah. Dan yang membuat film ini edukatif serta menghibur.
Film ini dirilis berdasarkan kesaksian beberapa korban yang berasal dari latar belakang yang berbeda dan kepentingan yang berbeda. Tapi semua dari mereka bersama satu kesamaan, mereka adalah saksi hidup dari letusan Krakatau. Tahun ini 1883, “Kami mengikuti kehidupan seorang pejabat pemerintah Belanda di Pulau Sumatera”, Willem Beijerinck (Rupert Penry-Jones) dan istrinya Johanna Beijerinck (Olivia Williams); Tokaya (Ramon Tikaram), seorang karyawan Jawa Willem; Rogier Verbeek (Kevin McMonagle), seorang ilmuwan yang mempelajari Krakatau dan gunung-gunung vulkanik lainnya yang tampaknya sering dilihat Schuits keluarga yang bekerja sebagai Keepers dari Lighthouse Point Keempat di Jawa dan obligasi dengan putra mereka, Josef (Connor Dowds of Prey (2007)); dan juga Kapten TH Lindeman (Darrell D'Silva) yang bekerja di sekitar laut Indonesia dengan kapalnya yang membawa puluhan penumpang ketika Krakatau meletus.
Jujur saja, kami tidak berharap akan menjadi begitu bersemangat menonton film ini, kami benar-benar mengira itu hanya akan menjadi begitu-begitu bencana film tetapi berdasarkan akurasi ilmiah dan sejarah tapi apa yang kami dapatkan adalah campuran seimbang dari film dokumenter tradisional dan bencana dengan keterampilan bertindak baik dari para pemeran. Hanya saja pembuat film tidak mempekerjakan aktor dan aktris Indonesia yang profesional sehingga kita benar-benar bisa merasakan suasana Indonesia. Ada ratusan juta orang hidup di negara ini dan kami yakin mereka yang telah menyaksikan Docudrama BBC ini akan merasa terganggu dengan busana aneh dari penduduk asli, yang seharusnya harus disesuaikan dengan budaya Indonesia pada masa itu.
Bagian dokumenter sering dimasukkan untuk mengajarkan kita sesuatu tentang apa yang sedang terjadi, dan BBC pandai dalam hal ini. Dengan suara yakin dari narator (suara dari direktur sendiri, Sam Miller) kita akan belajar tentang sejarah Krakatau dan Rakata dan bahkan Anak Krakatau. Dan untuk tahu siapa Rogier Verbeek sebenarnya dan bagaimana ia sangat memberikan kontribusi untuk mengetahui lebih banyak tentang kegiatan gunung berapi, dan juga tentunya untuk menyadari betapa mengerikannya hal itu adalah untuk segala sesuatu dan semua orang yang tinggal di garis pantai Indonesia ketika Krakatau meletus pada 26 Agustus 1883 , termasuk setelah efek dan gelombang Tsunami menghancurkan yang katanya setinggi tiga kali dari yang terlihat di Aceh pada tahun 2004!
Dan bagian film bencana ini dibuat untuk menunjukkan kepada kita bagaimana mematikan letusan Gunung Krakatau dan kami sebenarnya juga terkejut juga mengetahui bahwa urutan bencana mendebarkan, pujian untuk pemotretan itu. Sudut kamera benar-benar bisa menangkap intensitas bencana. Dan karena kami menyadari bagaimana mematikan Krakatau pada tahun 1883 adalah (berdasarkan cerita dari kakek besar kami), secara pribadi kami tertarik pada para pemeran karakter, terutama Johanna Beijerinck. Dan, sebelum aku lupa, kecepatan adalah satu terlalu besar, itu tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat, hanya sempurna antara menampilkan bagian Dokumenter dan bagian Drama.
Monday, January 31, 2011
resensi filem krakatoa.
LEMBAR OBSERVASI
OBYEK : Proses Pembelajaran di Kampus
WAKTU : 3 Januari 2011
TEMPAT : Ruang 313
OBSERVER : Mu’allim Syukri Khamid
Deskripsi:
Pada jam 08.45 WIB, ruang 313 PAI-D mahasiswa masuk kelas dan dosen sudah di dalam karena dosen belum keluar pada kuliah sebelumnya.
Sebelum dimualai perkuliahan, dosen menanyakan tugas yang diberikan minggu yang lalu, dan mahasiswapun mengumpulkannya, namun masih ada pula mahasiswa yang masih mengerjakan tugas tersebut.
Sekitar setengah jam proses pengumpulan tugas tersebut, kemudian dosen memulai materi tepatnya kurang lebih pukul 09.15 Wib. Dan mahasiswapun mendengarkan penjelasan dari dosen, namun ada juga yang masih mengerjakan tugas yang belum dikerjakannya, namun dosen tetap melanjutkan penelasannya tanpa menegur yang sedang mengerjakan tugas.
Sekitar 30 menit setelah dosen menjelaskan kemudian dosen menyuruh mahasiswanya untuk membuat deskripsi singkat tentang tentang proses pembelajaran yang barusan dilakukan.dan pada saat mahasiswa mengerjakan tugas yang baru saja diberikan oleh dosen, dosen menayangkan fotonya yang bersama dengan keluarganya, ada mahasiswa yang melihat foto tersebut, namun ada pula mahasisiwa yang melanjutkan mengerjakan tugas tersebut. Namun disela-sela mahasiswa yang mengerjakan tugas, ada pula mahasisiwa yang bermainan pulpennya dan ada pula yang hanya clingk-clinguk melihat teman yang mengerjakan tugas.
Pada jam 09.52 Wib saya selesai mengerjakan tugas yang diberikan dosen.dan mahasiswa yang lain pun menyusul. Seteleh selesai semua, dosen menyuruh salah satu mahasiswanya untuk membacakan hasil kerjanya.
Sebelum mengakhiri perkuliahan dosen memberikan tugas kepada mahasiswanya untuk membuat observasi tentang proses perkuliahan yang dikumpulkan pada waktu ujian.
Keterangan:
Hipotesis : Perkuliahan dilakukan selama 100 menit dari jam 08.45-09.30 WIB. Setelah mahasiswa masuk ruangannya dosen menanyakan tugas minggu lalu. Setelah itu dosen memberikan penjelasan materi baru yang belum disampaikan. Setelah selesai memberi penjelasan dosen menayakan pada mahasiswa apakah ada pertannyaan. Sebelum menutup perkuliahan dosen memberikan tugas kepada mahasiswa.
WAKTU : 3 Januari 2011
TEMPAT : Ruang 313
OBSERVER : Mu’allim Syukri Khamid
Deskripsi:
Pada jam 08.45 WIB, ruang 313 PAI-D mahasiswa masuk kelas dan dosen sudah di dalam karena dosen belum keluar pada kuliah sebelumnya.
Sebelum dimualai perkuliahan, dosen menanyakan tugas yang diberikan minggu yang lalu, dan mahasiswapun mengumpulkannya, namun masih ada pula mahasiswa yang masih mengerjakan tugas tersebut.
Sekitar setengah jam proses pengumpulan tugas tersebut, kemudian dosen memulai materi tepatnya kurang lebih pukul 09.15 Wib. Dan mahasiswapun mendengarkan penjelasan dari dosen, namun ada juga yang masih mengerjakan tugas yang belum dikerjakannya, namun dosen tetap melanjutkan penelasannya tanpa menegur yang sedang mengerjakan tugas.
Sekitar 30 menit setelah dosen menjelaskan kemudian dosen menyuruh mahasiswanya untuk membuat deskripsi singkat tentang tentang proses pembelajaran yang barusan dilakukan.dan pada saat mahasiswa mengerjakan tugas yang baru saja diberikan oleh dosen, dosen menayangkan fotonya yang bersama dengan keluarganya, ada mahasiswa yang melihat foto tersebut, namun ada pula mahasisiwa yang melanjutkan mengerjakan tugas tersebut. Namun disela-sela mahasiswa yang mengerjakan tugas, ada pula mahasisiwa yang bermainan pulpennya dan ada pula yang hanya clingk-clinguk melihat teman yang mengerjakan tugas.
Pada jam 09.52 Wib saya selesai mengerjakan tugas yang diberikan dosen.dan mahasiswa yang lain pun menyusul. Seteleh selesai semua, dosen menyuruh salah satu mahasiswanya untuk membacakan hasil kerjanya.
Sebelum mengakhiri perkuliahan dosen memberikan tugas kepada mahasiswanya untuk membuat observasi tentang proses perkuliahan yang dikumpulkan pada waktu ujian.
Keterangan:
Hipotesis : Perkuliahan dilakukan selama 100 menit dari jam 08.45-09.30 WIB. Setelah mahasiswa masuk ruangannya dosen menanyakan tugas minggu lalu. Setelah itu dosen memberikan penjelasan materi baru yang belum disampaikan. Setelah selesai memberi penjelasan dosen menayakan pada mahasiswa apakah ada pertannyaan. Sebelum menutup perkuliahan dosen memberikan tugas kepada mahasiswa.
Wednesday, January 26, 2011
Indonesia Raya - Lagu Kebangsaan Republik Indonesia -
Indonesia Raya - Lagu Kebangsaan Republik Indonesia - Lagu Wajib Nasional
Ciptaan : W.R. Supratman / Wage Rudolf Supratman
Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan Tanah Airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu
Hiduplah tanahku
Hiduplah negriku
Bangsaku Rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya
Indonesia Tanah yang mulia
Tanah kita yang kaya
Di sanalah aku berada Untuk slama-lamanya
Indonesia Tanah pusaka Pusaka Kita semuanya
Marilah kita mendoa Indonesia bahagia
Suburlah Tanahnya Suburlah jiwanya
Bangsanya Rakyatnya semuanya
Sadarlah hatinya Sadarlah budinya
Untuk Indonesia Raya
Indonesia Tanah yang suci Tanah kita yang sakti
Disanalah aku berdiri 'njaga ibu sejati
Indonesia! Tanah berseri Tanah yang aku sayangi
Marilah kita berjanji Indonesia abadi
Slamatlah Rakyatnya Slamatlah putranya
Pulaunya lautnya semuanya
Majulah Negrinya Majulah Pandunya
Untuk Indonesia Raya
Ciptaan : W.R. Supratman / Wage Rudolf Supratman
Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan Tanah Airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu
Hiduplah tanahku
Hiduplah negriku
Bangsaku Rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya
Indonesia Tanah yang mulia
Tanah kita yang kaya
Di sanalah aku berada Untuk slama-lamanya
Indonesia Tanah pusaka Pusaka Kita semuanya
Marilah kita mendoa Indonesia bahagia
Suburlah Tanahnya Suburlah jiwanya
Bangsanya Rakyatnya semuanya
Sadarlah hatinya Sadarlah budinya
Untuk Indonesia Raya
Indonesia Tanah yang suci Tanah kita yang sakti
Disanalah aku berdiri 'njaga ibu sejati
Indonesia! Tanah berseri Tanah yang aku sayangi
Marilah kita berjanji Indonesia abadi
Slamatlah Rakyatnya Slamatlah putranya
Pulaunya lautnya semuanya
Majulah Negrinya Majulah Pandunya
Untuk Indonesia Raya
Tuesday, January 11, 2011
Monday, January 10, 2011
curahan hati seoarang anak perantau
Assalamualaikum wr wb.
kawan......
Ijinkan saya mengungkapkan perasaan hati , meluahkan segala unek-unek yang selama ini menggangu pikiranku, karena selama ini aku nggak belum punya teman untuk berbagi kecuali dengan kekasihku yang tercinta itupun tidak semua aku curahkan kepadanya karena aku takut akan menjadi beban pikiran orang yang selama ini aku sayangi.
kawan.......
Bertahun-tahun saya hidup di perantauan berusaha dan terus berharap agar Allah Swt. selalu melimpahkan RizkiNya (ilmu yang bermanfaat) kepadaku. saya sadar bahwa jodoh, rizki,mati itu adalah urusan Allah tapi saya nggak mau menyerah karena Allah telah Berjanji bahwa nasib seseorang itu akan berubah selagi seseorang itu mau merubahnya sendiri.
kawan.......
Saat ini saya berkuliah disebuah perguruan tinggi agama di Yogyakarta. sejak saya merantau ke Jogja untuk menuntut ilmu yang bermanfaat, saya tinggal di kontrakan yang sempit berasama dengan anak-anak perantau yang lain walaupun sempit tapi kami sangat bersyukur karena kami masih bisa sholat berjamaah dan menikmati Rizki yang dilimpahkan Allah kepada kami anak perantau. sungguh kenikmatan yang sangat luar biasa walaupun kami hidup dalam keterbatasan tapi kami merasa bahagia karena kami para anak perantau masih diberi kesempatan bernafas menghirup udara bebas.....
kawan.........
Semua orang pasti pingin hidup enak,tercukupi segala keinginannya, begitupun kami para anak perantau,kami juga manusia biasa yang dikaruniai oleh Allah nafsu. kami juga pingin hidup enak,kecukupan tapi kami tidak mempunyai ambisi yang muluk-muluk.
kawan Ditahun pertama saya mengarungi kehidupan yang berbeda dari biasanya karena sekarang saya hidup jauh dari orang tuaku, dan hidup serba kecukupan, tapi kami tetap bersemangat untuk mengarungi kejamnya hidup di perantauan, dan saya berdo'a semoga untuk tahun-tahun berikutnya saya dapat hidup lebih bahagia dan kembali ke kampung halaman dengan ilmu yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarajkat. amin.....amin ....ya robbal'alamin.....
kawan......
Ijinkan saya mengungkapkan perasaan hati , meluahkan segala unek-unek yang selama ini menggangu pikiranku, karena selama ini aku nggak belum punya teman untuk berbagi kecuali dengan kekasihku yang tercinta itupun tidak semua aku curahkan kepadanya karena aku takut akan menjadi beban pikiran orang yang selama ini aku sayangi.
kawan.......
Bertahun-tahun saya hidup di perantauan berusaha dan terus berharap agar Allah Swt. selalu melimpahkan RizkiNya (ilmu yang bermanfaat) kepadaku. saya sadar bahwa jodoh, rizki,mati itu adalah urusan Allah tapi saya nggak mau menyerah karena Allah telah Berjanji bahwa nasib seseorang itu akan berubah selagi seseorang itu mau merubahnya sendiri.
kawan.......
Saat ini saya berkuliah disebuah perguruan tinggi agama di Yogyakarta. sejak saya merantau ke Jogja untuk menuntut ilmu yang bermanfaat, saya tinggal di kontrakan yang sempit berasama dengan anak-anak perantau yang lain walaupun sempit tapi kami sangat bersyukur karena kami masih bisa sholat berjamaah dan menikmati Rizki yang dilimpahkan Allah kepada kami anak perantau. sungguh kenikmatan yang sangat luar biasa walaupun kami hidup dalam keterbatasan tapi kami merasa bahagia karena kami para anak perantau masih diberi kesempatan bernafas menghirup udara bebas.....
kawan.........
Semua orang pasti pingin hidup enak,tercukupi segala keinginannya, begitupun kami para anak perantau,kami juga manusia biasa yang dikaruniai oleh Allah nafsu. kami juga pingin hidup enak,kecukupan tapi kami tidak mempunyai ambisi yang muluk-muluk.
kawan Ditahun pertama saya mengarungi kehidupan yang berbeda dari biasanya karena sekarang saya hidup jauh dari orang tuaku, dan hidup serba kecukupan, tapi kami tetap bersemangat untuk mengarungi kejamnya hidup di perantauan, dan saya berdo'a semoga untuk tahun-tahun berikutnya saya dapat hidup lebih bahagia dan kembali ke kampung halaman dengan ilmu yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarajkat. amin.....amin ....ya robbal'alamin.....
Tuesday, November 30, 2010
dimensi rasa agama
1 DOCTRIN(KEIMANAN)
Tiada sesembahan selain Allah SWT.
Allah megutus seorang Rosul sebagai panutan di bumi
Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai penuntun hidup di bumi
2 RITUAL(IBADAH)
Menunaikan Zakat
Menikah dengan wanita yang beriman
Melaksanakan sholat jum’at
3 KNOWLEDGE(PENGETAHUAN)
Mengetahui tata cara berwudlu
Mengetahui tentang fiqh (hukum islam)
Saya mengetahui bahwa mencuri itu perbuatan yang dilarang oleh agama
4 EMOTION(RASA PENDEKATAN)
Hati saya bergetar bila disebut asma Allah
Hati saya merasa tenang setelah sholat
Saya selalu berdo’a dalam kedaan susah
Saya selalu bersyukur ketika merasa senang
5 ETHICS(AKHLAK)
Menghormati orang lain baik sesama maupun antar umat beragama
Menghargai orang yang lebih tua
Saya selalu patuh kepada orang tua
6 COMMUTITY(SOSIAL)
Tolong menolong dalam kebaikan
Memberi bantuan kepada korban merapi
Mengikuti kerja bakti di lingkungan rt
Mengikuti relawan korban merapi
Tiada sesembahan selain Allah SWT.
Allah megutus seorang Rosul sebagai panutan di bumi
Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai penuntun hidup di bumi
2 RITUAL(IBADAH)
Menunaikan Zakat
Menikah dengan wanita yang beriman
Melaksanakan sholat jum’at
3 KNOWLEDGE(PENGETAHUAN)
Mengetahui tata cara berwudlu
Mengetahui tentang fiqh (hukum islam)
Saya mengetahui bahwa mencuri itu perbuatan yang dilarang oleh agama
4 EMOTION(RASA PENDEKATAN)
Hati saya bergetar bila disebut asma Allah
Hati saya merasa tenang setelah sholat
Saya selalu berdo’a dalam kedaan susah
Saya selalu bersyukur ketika merasa senang
5 ETHICS(AKHLAK)
Menghormati orang lain baik sesama maupun antar umat beragama
Menghargai orang yang lebih tua
Saya selalu patuh kepada orang tua
6 COMMUTITY(SOSIAL)
Tolong menolong dalam kebaikan
Memberi bantuan kepada korban merapi
Mengikuti kerja bakti di lingkungan rt
Mengikuti relawan korban merapi
Paradigma Guru di Indonesia
Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Kelompok
Mata Kuliah Sosiologi Pendidikan
Dosen Pengampu Nur Hamidi
Disusun oleh:
Mu’allim Syukri Khamid (09410168)
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2010
BAB I
PENDAHULUAN
Pada akhir tahun 2006 dan sampai pertengahan tahun 2007, sebagian besar satuan pendidikan sibuk dengan pekerjaan besar, yaitu menyusun kurikulumnya sendiri yang sering disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dengan semangat otonomi dan desentralisasi, KTSP memberi keleluasaan sekolah untuk mengembangkan kurikulum sendiri. KTSP sebenarnya positif, sebab sekolah diberi otonomi untuk berdiskusi terkait dengan standar Kompetensi yang telah ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Hanya saja, sebagian besar guru belum terbiasa untuk mengembangkan model-model kurikulum. Selama ini mereka diperintah untuk melaksanakan kewajiban yang sudah baku, yakni kurikulum yang dibuat dari “pusat”. Penerapan KTSP tersebut berimplikasi pada bertambahnya beban bagi guru. Penerapan KTSP mengandaikan guru bisa membuat kurikulum untuk tiap mata pelajaran. Padahal, selama ini guru sudah terbiasa mengikuti kurikulum yang ditetapkan pemerintah.
Pemberdayaan guru dalam KTSP ini akan lebih baik, karena guru harus memikirkan perencanaan penyampaian materinya. Penerapan KTSP memberikan peluang bagi setiap sekolah untuk menyusun kurikulumnya sendiri, dan untuk itu tiap guru yang akan mengajar di kelas dituntut memiliki kemampuan menyusun kurikulum yang tepat bagi peserta didiknya.
Banyak hasil yang diperoleh dari kegiatan penyusunan KTSP tersebut, tidak saja berupa silabus dan rencana pembelajaran serta keterampilan menerapkannya, tetapi juga memberi pengalaman baru bagi guru tentang bagaimana berpikir tentang masa depan pendidikan bagi peserta didiknya. Bekal pengetahuan dan keterampilan tersebut akan digunakan guru dalam mengimplementasikan KTSP. Dari sekian macam kegiatan yang dilakukan, guru masih meragukan hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan KTSP antara lain tentang waktu yang diperlukan peserta didik untuk “tuntas” pada kompetensi dasar tertentu. Hal itu disebabkan adanya kebiasaan guru yang biasanya selesai diterangkan selama 15 menit, tetapi dengan sistem pembelajaran pada KTSP, guru seolah menjadi repot dan misalnya butuh waktu lama. Ini berarti bahwa guru masih merasa bahwa cara-cara yang dilakukan dalam mengajar selama ini diangggap sudah baik dan guru sudah “hafal” dengan cara-cara tersebut. Apalagi dengan bertambahnya tugas guru dalam melakukan penilaian terhadap peserta didiknya, karena peserta didik harus dinilai tidak hanya aspek kognitifnya tetapi juga aspek afektif dan psikomotornya. Padahal, dengan cara-cara seperti yang dilakukannya bertahun-tahun, hasil atau mutu pendidikan kita sekarang dianggap masih rendah dan peserta didik kita masih belum dapat bersaing dengan negara lain.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Keunggulan Dan Kelemahan KTSP
KTSP yang juga. merupakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) memiliki berbagai keunggulan dan kelemahan. Keunggulan konsep ini, meski bukan format satu-satunya untuk mengantisipasi permasalahan pendidikan, namun secara umum, KTSP bisa ‘diandalkan’ menjadi patokan menghadapi tantangan masa depan dengan pembekalan keterampilan pada peserta didik. Keunggulan lain, KTSP memiliki kemampuan beradaptasi dengan daerah ,setempat, karena keterampilan yang diajarkan berdasarkan pada lingkungan dan kemampuan peserta didik. Di samping itu juga adanya penghargaan bagi pribadi peserta didik. Peserta didik yang mampu menyerap materi dengan cepat akan diberi tambahan materi sebagai pengayaan, dan peserta didik yang kurang akan ditangani oleh guru dengan penuh kesabaran dengan mengulang materinya atau memberi remedial. Peserta didik juga diajak bicara, diskusi, wawancara dan membahas masalah-masalah yang kontekstual, yang dalam kenyataannya memang diperlukan sehingga peserta didik menjadi lebih mengerti dan menjiwai permasalahannya karena sesuai dengan keadaan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Peserta. didik tidak hanya dituntut untuk menghafal namun yang lebih penting sudah adalah belajar proses sehingga mendorong peserta didik untuk meneliti dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Namun, kesulitan yang mungkin saja timbul dari pelaksanaan KTSP ini adalah diperlukannya waktu yang cukup oleh pendidik dalam membina perkembangan peserta didiknya, terutama peserta didik yang berkemampuan di bawah rata-rata. Kenyataan membuktikan, kondisi sosial dan ekonomi yang menghimpit kesejahteraan hidup para guru, menyebabkan mereka kurang berkonsentrasi dalam proses pembelajaran. Belum lagi mengingat kualitas guru yang kurang merata di setiap daerah. Ini artinya, KTSP menghadapi kendala daya kreativitas dan beragamnya kapasitas guru untuk membuat. kurikulum sendiri.
Kendala lain, KTSP menuntut kemampuan guru dalam menjalankan pembelajaran berbasis kompetensi dengan merencanakan sendiri bagaimana strategi yang tepat diterapkan sesuai dengan kondisi dan kemampuan daerah setempat. Di samping masalah fasilitas pendidikan di sekolah yang masih sangat minim. Padahal konsep ini lebih menitikberatkan pada praktek di lapangan sesuai dengan kompetensi yang dimiliki dibanding teori semata. Kendala lain yang dialami guru adalah ketidakpahaman mengenai apa dan bagaimana melakukan evaluasi dengan portofolio. Karena ketidakpahaman ini mereka kembali kepada pola assessment lama dengan tes-tes dan ulangan-ulangan yang cognitive-based semata. Tidak adanya model sekolah yang bisa dijadikan sebagai rujukan membuat para guru tidak mampu melakukan perubahan, apalagi lompatan, dalam proses peningkatan kegiatan belajar mengararnya.
Berkenaan dengan tidak adanya target materi dalam KTSP, di satu pihak KTSP menekankan kompetensi peserta didik yang berarti proses belajar harus diperhatikan oleh guru, di pihak lain materi meskipun tidak diprioritaskan tetapi akhirnya harus diselesaikan juga. Dengan demikian guru harus berpacu dengan waktu, sementara proses belajar tidak dapat dipastikan keberhasilannya. Hal ini berdampak pada rendahnya hasil belajar peserta didik yang dibinanya, yang berujung pada penolakan kebijakan pemerintah tentang Ujian Nasional (UN) sebagai dasar penentuan kelulusan peserta didiknya.
B. Guru Sebagai Fasilitator Dalam Membantu Peserta Didik Membangun Pengetahuan
Guru adalah seorang motivator, administrator, informator, instruktur, dan sebagaimana dalam mendidik dan mengajar peserta didik melalui proses pembelajaran. Tugas berat dipanggul oleh guru untuk membangun generasi baru yang bermoral dan berperilaku jujur, mulia, dan bermartabat demi masa depan bangsa dan negara melalui proses pendidikan.
Salah satu ciri pembelajaran efektif adalah mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya (Dit-PLP, 2003) . Ciri inilah yang dikembangkan dalam pembelajaran KTSP dan berkaitan dengan filsafat konstruktivisme.
Tugas penting guru pada pendidikan formal di sekolah di antaranya adalah membantu peserta didik untuk mengenal dan mengetahui sesuatu, terutama memperoleh pengetahuan. Dalam pengertian konstruktivisme, pengetahuan itu merupakan “proses menjadi”, yang pelan-pelan menjadi lebih lengkap dan benar. Pengetahuan itu dapat dibentuk secara pribadi dan peserta didik itu sendiri yang membentuknya.
Peran guru atau pendidik adalah sebagai fasilitator atau moderator dan tugasnya adalah merangsang atau memberikan stimulus, membantu peserta didik untuk mau belajar sendiri dan merumuskan pengertiannya. Guru juga mengevaluasi apakah gagasan peserta didik itu sesuai dengan gagasan para ahli atau tidak. Sedangkan tugas peserta didik aktif belajar, mencerna, dan memodifikasi gagasan sebelumnya. Dalam KTSP dianut bentuk pem¬belajaran yang ideal yaitu pembelajaran peserta didik aktif dan kritis. Peserta didik tidak kosong, tetapi sudah ada pengertian awal tertentu yang harus dibantu untuk berkembang. Maka modelnya adalah model dialogis, model mencari bersama antara guru dan peserta didik. Peserta didik dapat mengungkapkan gagasannya, dapat mengkritik pendapat guru yang dianggap kurang tepat, dapat mengungkapkan jalan pikirannya yang lain dari guru. Guru tidak menjadi diktator yang hanya menekankan satu nilai satu jalan keluar, tetapi lebih demokratis. Dalam KTSP, pendidikan yang benar harus membebaskan peserta didik untuk berpikir, berkreasi, dan berkembang.
Implementasi KTSP sebenarnya membutuhkan penciptaan iklim pendidikan yang memungkinkan tumbuhnya semangat intelektual dan ilmiah bagi setiap guru, mulai dari rumah, di sekolah, maupun di masyarakat. Hal ini berkaitan adanya pergeseran peran guru yang semula lebih sebagai instruktur atau selalu memberi instruksi dan kini menjadi fasilitator pembelajaran. Guru dapat melakukan upaya-upaya kreatif serta inovatif dalam bentuk penelitian tindakan terhadap berbagai teknik atau model pengelolaan pembelajaran yang mampu menghasilkan lulusan yang kompeten.
C. Perlunya Perubahan Paradigma Mengajar
Dengan KTSP, guru mengajar supaya peserta didik memahami yang diajarkan dan mampu memanfaatkannya dengan menerapkan pemahamannya baik untuk memahami alami lingkungan sekitar maupun untuk solusi atau pemecahan masalah sehari-hari. Kegiatan mengajar bukan sekedar mengingat fakta untuk persediaan jawaban tes sewaktu ujian. Akan tetapi, kegiatan mengajar juga diharapkan mampu memperluas wawasan pengetahuan, meningkatkan keterampilan, dan menumbuhkan sejumlah sikap positif yang direfleksikan peserta didik melalui cara berpikir dan cara bertindak atau berperilaku sebagai dampak hasil belajamya. Oleh karena itu cara guru mengajar perlu diubah. Ditinjau dari esensi proses pembelajarannya, perlu adanya pengubahan paradigma “mengajar” (teaching) menjadi “membelajarkan” (learning how to learn) sehingga proses belajarnya cenderung dinamis dan bersifat praktis dan analitis dalam dua dimensi yaitu: pengembangan proses eksplorasi dan proses kreativitas. Proses eksplorasi menjadi titik pijak untuk menggali pengalaman dan penghayatan khas peserta didik, bukan dari pihak luar, bukan dari apa yang dimaui orang tua, guru, maupun masyarakat bahkan pemerintah sekalipun. Dari proses tersebut dikembangkan prakarsa untuk bereksperimen-kreatif, berimajinasi-kreatif dengan metode belajar yang memungkinkan peserta didik untuk melatih inisiatif berpikir, mentradisikan aktivitas kreatif, mengem¬bangkan kemerdekaan berpikir, mengeluarkan ide, menumbuhkan kenikmatan bekerjasama, memecahkan masalah-masalah hidup dan kehidupan nyata. Karena itu, dalam proses pembelajaran seharusnya tampak dalam bentuk kegiatan prakarsa bebas (independent study), komunikasi dialogis antar peserta didik maupun antara peserta didik dan guru, spontanitas kreatif, yang kadang-kadang terkesan kurang tertib menurut pandangan pendidikan. Guru perlu menyediakan beragam kegiatan pembelajaran yang berimplikasi pada beragamnya pengalaman belajar supaya peserta didik mampu mengembangkan kompetensi setelah menerapkan pemahamannya pengetahuannya. Untuk itu strategi belajar aktif melalui multi ragam metode sangat sesuai untuk digunakan ketika akan menerapkan KTSP.
Dalam pendidikan matematika, Marpaung (2003) menyatakan perlunya melakukan perubahan/ pergeseran paradigma dari paradigma mengajar ke paradigma belajar. Lebih lanjut Marpaung memerinci karakteristik paradigma belajar, yaitu: peserta didik aktif guru aktif, pengetahuan dikonstruksi, menekankan proses dan produk, pembelajaran luwes dan menyenangkan, sinergi pikiran dan tubuh, berorientasi pada peserta didik, asesmen bersifat realistik, dan kemampuan sebagai suatu penguasaan hubungan antar pengetahuan yang tersusun dalam suatu jaringan. Untuk itu dituntut komitmen guru untuk berubah, bersikap sabar, bersikap positif, ramah dan memiliki kompetensi tinggi. Bentuk-bentuk penilaian yang dapat digunakan oleh guru tidak hanya berupa penilaian “tradisional” yaitu hanya melakukan kegiatan ulangan harian tetapi perlu dikembangkan penilaian “alternatif”, antara lain adalah portofolio, tugas kelompok, demonstrasi, dan laporan tertulis. Sebagai penjabarannya antara lain, portofolio; merupakan kumpulan tugas yang dikerjakan peserta didik dalam konteks belajar dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik diharapkan untuk mengerjakan tugas tersebut supaya lebih kreatif. Mereka memperoleh kebebasan dalam belajar sekaligus memperoleh kesempatan luas untuk berkembang serta merekapun termotivasi. Penilaian ini tidak perlu mendapatkan penilaian angka, melainkan melihat pada proses peserta didik sebagai pembelajaran aktif. Sebagai contoh, peserta didik diminta untuk melakukan survei mengenai jenis-jenis pekerjaan di lingkungan rumahnya.
Tugas kelompok, dalam pembelajaran kontekstual berbentuk pengerjaan proyek. Kegiatan ini merupakan cara untuk mencapai tujuan akademik sambil mengakomodasi perbedaan gaya belajar, minat, serta bakat dari masing-masing peserta didik. Isi dari proyek akademik terkait dengan konteks kehidupan nyata, oleh karena itu tugas ini dapat meningkatkan partisipasi peserta didik. Sebagai contoh, peserta didik diminta membentuk kelompok projek untuk menyelidiki penyebab pencemaran sungai di lingkungan peserta didik. Demonstrasi, peserta didik diminta menampilkan hasil penugasan kepada orang lain mengenai kompetensi yang telah mereka kuasai. Demonstrasi ini dapat dilakukan di kelas atau di luar kelas. Di dalam kelas antara lain dapat dilakukan dalam kegiatan laboratorium IPA, di lapangan olahraga untuk pelajaran Pendidikan Jasmani dan Olahraga. Di luar kelas antara lain peserta didik diminta membentuk kelompok untuk membuat naskah drama dan mementaskannya dalam pertunjukan, para penonton dapat memberikan evaluasi pertunjukan peserta didik.
DAFTAR PUSTAKA
Dit-PLP-Ditjen Dikdasmen-Depdiknas.(2003). Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Jakarta.
Padil Moh., Triyo Supriyatno, Sosiologi Pendidikan, UIN-Maliki Press: 2010, Malang.
www.beranda-jiwa.info
BAB III
PENUTUP
Guru adalah komponen pokok dalam sistem pendidikan. Oleh sebab itu suksesnya pelaksanaan KTSP sangat tergantung pada sikap guru alam mengajar. Kurikulum yang selama ini dibuat dari pusat menyebabkan kreativitas guru kurang terpupuk, tetapi dengan KTSP, kreativitas guru bisa berkembang. Menggunakan paradigma lama dalam mengajar untuk menghadapi tantangan baru dan situasi baru jelas kurang efektif. Agar kualitas pendidikan kita meningkat, guru perlu melakukan introspeksi dan mau mengubah paradigma mengajar, cara berpikir serta mempraktekkan pembelajaran dengan menggunakan paradigma belajar. Guru sebagai ujung tombak pembelajaran sudah sekian lama menggunakan metode lama, ia menjadi sumber belajar utama. Paradigma mengajar tersebut itu harus diubah dengan menggiatkan peserta didik agar dapat mencapai komepetensinya melalui penguasaan materi ajar.
Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Kelompok
Mata Kuliah Sosiologi Pendidikan
Dosen Pengampu Nur Hamidi
Disusun oleh:
Mu’allim Syukri Khamid (09410168)
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2010
BAB I
PENDAHULUAN
Pada akhir tahun 2006 dan sampai pertengahan tahun 2007, sebagian besar satuan pendidikan sibuk dengan pekerjaan besar, yaitu menyusun kurikulumnya sendiri yang sering disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dengan semangat otonomi dan desentralisasi, KTSP memberi keleluasaan sekolah untuk mengembangkan kurikulum sendiri. KTSP sebenarnya positif, sebab sekolah diberi otonomi untuk berdiskusi terkait dengan standar Kompetensi yang telah ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Hanya saja, sebagian besar guru belum terbiasa untuk mengembangkan model-model kurikulum. Selama ini mereka diperintah untuk melaksanakan kewajiban yang sudah baku, yakni kurikulum yang dibuat dari “pusat”. Penerapan KTSP tersebut berimplikasi pada bertambahnya beban bagi guru. Penerapan KTSP mengandaikan guru bisa membuat kurikulum untuk tiap mata pelajaran. Padahal, selama ini guru sudah terbiasa mengikuti kurikulum yang ditetapkan pemerintah.
Pemberdayaan guru dalam KTSP ini akan lebih baik, karena guru harus memikirkan perencanaan penyampaian materinya. Penerapan KTSP memberikan peluang bagi setiap sekolah untuk menyusun kurikulumnya sendiri, dan untuk itu tiap guru yang akan mengajar di kelas dituntut memiliki kemampuan menyusun kurikulum yang tepat bagi peserta didiknya.
Banyak hasil yang diperoleh dari kegiatan penyusunan KTSP tersebut, tidak saja berupa silabus dan rencana pembelajaran serta keterampilan menerapkannya, tetapi juga memberi pengalaman baru bagi guru tentang bagaimana berpikir tentang masa depan pendidikan bagi peserta didiknya. Bekal pengetahuan dan keterampilan tersebut akan digunakan guru dalam mengimplementasikan KTSP. Dari sekian macam kegiatan yang dilakukan, guru masih meragukan hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan KTSP antara lain tentang waktu yang diperlukan peserta didik untuk “tuntas” pada kompetensi dasar tertentu. Hal itu disebabkan adanya kebiasaan guru yang biasanya selesai diterangkan selama 15 menit, tetapi dengan sistem pembelajaran pada KTSP, guru seolah menjadi repot dan misalnya butuh waktu lama. Ini berarti bahwa guru masih merasa bahwa cara-cara yang dilakukan dalam mengajar selama ini diangggap sudah baik dan guru sudah “hafal” dengan cara-cara tersebut. Apalagi dengan bertambahnya tugas guru dalam melakukan penilaian terhadap peserta didiknya, karena peserta didik harus dinilai tidak hanya aspek kognitifnya tetapi juga aspek afektif dan psikomotornya. Padahal, dengan cara-cara seperti yang dilakukannya bertahun-tahun, hasil atau mutu pendidikan kita sekarang dianggap masih rendah dan peserta didik kita masih belum dapat bersaing dengan negara lain.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Keunggulan Dan Kelemahan KTSP
KTSP yang juga. merupakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) memiliki berbagai keunggulan dan kelemahan. Keunggulan konsep ini, meski bukan format satu-satunya untuk mengantisipasi permasalahan pendidikan, namun secara umum, KTSP bisa ‘diandalkan’ menjadi patokan menghadapi tantangan masa depan dengan pembekalan keterampilan pada peserta didik. Keunggulan lain, KTSP memiliki kemampuan beradaptasi dengan daerah ,setempat, karena keterampilan yang diajarkan berdasarkan pada lingkungan dan kemampuan peserta didik. Di samping itu juga adanya penghargaan bagi pribadi peserta didik. Peserta didik yang mampu menyerap materi dengan cepat akan diberi tambahan materi sebagai pengayaan, dan peserta didik yang kurang akan ditangani oleh guru dengan penuh kesabaran dengan mengulang materinya atau memberi remedial. Peserta didik juga diajak bicara, diskusi, wawancara dan membahas masalah-masalah yang kontekstual, yang dalam kenyataannya memang diperlukan sehingga peserta didik menjadi lebih mengerti dan menjiwai permasalahannya karena sesuai dengan keadaan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Peserta. didik tidak hanya dituntut untuk menghafal namun yang lebih penting sudah adalah belajar proses sehingga mendorong peserta didik untuk meneliti dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Namun, kesulitan yang mungkin saja timbul dari pelaksanaan KTSP ini adalah diperlukannya waktu yang cukup oleh pendidik dalam membina perkembangan peserta didiknya, terutama peserta didik yang berkemampuan di bawah rata-rata. Kenyataan membuktikan, kondisi sosial dan ekonomi yang menghimpit kesejahteraan hidup para guru, menyebabkan mereka kurang berkonsentrasi dalam proses pembelajaran. Belum lagi mengingat kualitas guru yang kurang merata di setiap daerah. Ini artinya, KTSP menghadapi kendala daya kreativitas dan beragamnya kapasitas guru untuk membuat. kurikulum sendiri.
Kendala lain, KTSP menuntut kemampuan guru dalam menjalankan pembelajaran berbasis kompetensi dengan merencanakan sendiri bagaimana strategi yang tepat diterapkan sesuai dengan kondisi dan kemampuan daerah setempat. Di samping masalah fasilitas pendidikan di sekolah yang masih sangat minim. Padahal konsep ini lebih menitikberatkan pada praktek di lapangan sesuai dengan kompetensi yang dimiliki dibanding teori semata. Kendala lain yang dialami guru adalah ketidakpahaman mengenai apa dan bagaimana melakukan evaluasi dengan portofolio. Karena ketidakpahaman ini mereka kembali kepada pola assessment lama dengan tes-tes dan ulangan-ulangan yang cognitive-based semata. Tidak adanya model sekolah yang bisa dijadikan sebagai rujukan membuat para guru tidak mampu melakukan perubahan, apalagi lompatan, dalam proses peningkatan kegiatan belajar mengararnya.
Berkenaan dengan tidak adanya target materi dalam KTSP, di satu pihak KTSP menekankan kompetensi peserta didik yang berarti proses belajar harus diperhatikan oleh guru, di pihak lain materi meskipun tidak diprioritaskan tetapi akhirnya harus diselesaikan juga. Dengan demikian guru harus berpacu dengan waktu, sementara proses belajar tidak dapat dipastikan keberhasilannya. Hal ini berdampak pada rendahnya hasil belajar peserta didik yang dibinanya, yang berujung pada penolakan kebijakan pemerintah tentang Ujian Nasional (UN) sebagai dasar penentuan kelulusan peserta didiknya.
B. Guru Sebagai Fasilitator Dalam Membantu Peserta Didik Membangun Pengetahuan
Guru adalah seorang motivator, administrator, informator, instruktur, dan sebagaimana dalam mendidik dan mengajar peserta didik melalui proses pembelajaran. Tugas berat dipanggul oleh guru untuk membangun generasi baru yang bermoral dan berperilaku jujur, mulia, dan bermartabat demi masa depan bangsa dan negara melalui proses pendidikan.
Salah satu ciri pembelajaran efektif adalah mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya (Dit-PLP, 2003) . Ciri inilah yang dikembangkan dalam pembelajaran KTSP dan berkaitan dengan filsafat konstruktivisme.
Tugas penting guru pada pendidikan formal di sekolah di antaranya adalah membantu peserta didik untuk mengenal dan mengetahui sesuatu, terutama memperoleh pengetahuan. Dalam pengertian konstruktivisme, pengetahuan itu merupakan “proses menjadi”, yang pelan-pelan menjadi lebih lengkap dan benar. Pengetahuan itu dapat dibentuk secara pribadi dan peserta didik itu sendiri yang membentuknya.
Peran guru atau pendidik adalah sebagai fasilitator atau moderator dan tugasnya adalah merangsang atau memberikan stimulus, membantu peserta didik untuk mau belajar sendiri dan merumuskan pengertiannya. Guru juga mengevaluasi apakah gagasan peserta didik itu sesuai dengan gagasan para ahli atau tidak. Sedangkan tugas peserta didik aktif belajar, mencerna, dan memodifikasi gagasan sebelumnya. Dalam KTSP dianut bentuk pem¬belajaran yang ideal yaitu pembelajaran peserta didik aktif dan kritis. Peserta didik tidak kosong, tetapi sudah ada pengertian awal tertentu yang harus dibantu untuk berkembang. Maka modelnya adalah model dialogis, model mencari bersama antara guru dan peserta didik. Peserta didik dapat mengungkapkan gagasannya, dapat mengkritik pendapat guru yang dianggap kurang tepat, dapat mengungkapkan jalan pikirannya yang lain dari guru. Guru tidak menjadi diktator yang hanya menekankan satu nilai satu jalan keluar, tetapi lebih demokratis. Dalam KTSP, pendidikan yang benar harus membebaskan peserta didik untuk berpikir, berkreasi, dan berkembang.
Implementasi KTSP sebenarnya membutuhkan penciptaan iklim pendidikan yang memungkinkan tumbuhnya semangat intelektual dan ilmiah bagi setiap guru, mulai dari rumah, di sekolah, maupun di masyarakat. Hal ini berkaitan adanya pergeseran peran guru yang semula lebih sebagai instruktur atau selalu memberi instruksi dan kini menjadi fasilitator pembelajaran. Guru dapat melakukan upaya-upaya kreatif serta inovatif dalam bentuk penelitian tindakan terhadap berbagai teknik atau model pengelolaan pembelajaran yang mampu menghasilkan lulusan yang kompeten.
C. Perlunya Perubahan Paradigma Mengajar
Dengan KTSP, guru mengajar supaya peserta didik memahami yang diajarkan dan mampu memanfaatkannya dengan menerapkan pemahamannya baik untuk memahami alami lingkungan sekitar maupun untuk solusi atau pemecahan masalah sehari-hari. Kegiatan mengajar bukan sekedar mengingat fakta untuk persediaan jawaban tes sewaktu ujian. Akan tetapi, kegiatan mengajar juga diharapkan mampu memperluas wawasan pengetahuan, meningkatkan keterampilan, dan menumbuhkan sejumlah sikap positif yang direfleksikan peserta didik melalui cara berpikir dan cara bertindak atau berperilaku sebagai dampak hasil belajamya. Oleh karena itu cara guru mengajar perlu diubah. Ditinjau dari esensi proses pembelajarannya, perlu adanya pengubahan paradigma “mengajar” (teaching) menjadi “membelajarkan” (learning how to learn) sehingga proses belajarnya cenderung dinamis dan bersifat praktis dan analitis dalam dua dimensi yaitu: pengembangan proses eksplorasi dan proses kreativitas. Proses eksplorasi menjadi titik pijak untuk menggali pengalaman dan penghayatan khas peserta didik, bukan dari pihak luar, bukan dari apa yang dimaui orang tua, guru, maupun masyarakat bahkan pemerintah sekalipun. Dari proses tersebut dikembangkan prakarsa untuk bereksperimen-kreatif, berimajinasi-kreatif dengan metode belajar yang memungkinkan peserta didik untuk melatih inisiatif berpikir, mentradisikan aktivitas kreatif, mengem¬bangkan kemerdekaan berpikir, mengeluarkan ide, menumbuhkan kenikmatan bekerjasama, memecahkan masalah-masalah hidup dan kehidupan nyata. Karena itu, dalam proses pembelajaran seharusnya tampak dalam bentuk kegiatan prakarsa bebas (independent study), komunikasi dialogis antar peserta didik maupun antara peserta didik dan guru, spontanitas kreatif, yang kadang-kadang terkesan kurang tertib menurut pandangan pendidikan. Guru perlu menyediakan beragam kegiatan pembelajaran yang berimplikasi pada beragamnya pengalaman belajar supaya peserta didik mampu mengembangkan kompetensi setelah menerapkan pemahamannya pengetahuannya. Untuk itu strategi belajar aktif melalui multi ragam metode sangat sesuai untuk digunakan ketika akan menerapkan KTSP.
Dalam pendidikan matematika, Marpaung (2003) menyatakan perlunya melakukan perubahan/ pergeseran paradigma dari paradigma mengajar ke paradigma belajar. Lebih lanjut Marpaung memerinci karakteristik paradigma belajar, yaitu: peserta didik aktif guru aktif, pengetahuan dikonstruksi, menekankan proses dan produk, pembelajaran luwes dan menyenangkan, sinergi pikiran dan tubuh, berorientasi pada peserta didik, asesmen bersifat realistik, dan kemampuan sebagai suatu penguasaan hubungan antar pengetahuan yang tersusun dalam suatu jaringan. Untuk itu dituntut komitmen guru untuk berubah, bersikap sabar, bersikap positif, ramah dan memiliki kompetensi tinggi. Bentuk-bentuk penilaian yang dapat digunakan oleh guru tidak hanya berupa penilaian “tradisional” yaitu hanya melakukan kegiatan ulangan harian tetapi perlu dikembangkan penilaian “alternatif”, antara lain adalah portofolio, tugas kelompok, demonstrasi, dan laporan tertulis. Sebagai penjabarannya antara lain, portofolio; merupakan kumpulan tugas yang dikerjakan peserta didik dalam konteks belajar dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik diharapkan untuk mengerjakan tugas tersebut supaya lebih kreatif. Mereka memperoleh kebebasan dalam belajar sekaligus memperoleh kesempatan luas untuk berkembang serta merekapun termotivasi. Penilaian ini tidak perlu mendapatkan penilaian angka, melainkan melihat pada proses peserta didik sebagai pembelajaran aktif. Sebagai contoh, peserta didik diminta untuk melakukan survei mengenai jenis-jenis pekerjaan di lingkungan rumahnya.
Tugas kelompok, dalam pembelajaran kontekstual berbentuk pengerjaan proyek. Kegiatan ini merupakan cara untuk mencapai tujuan akademik sambil mengakomodasi perbedaan gaya belajar, minat, serta bakat dari masing-masing peserta didik. Isi dari proyek akademik terkait dengan konteks kehidupan nyata, oleh karena itu tugas ini dapat meningkatkan partisipasi peserta didik. Sebagai contoh, peserta didik diminta membentuk kelompok projek untuk menyelidiki penyebab pencemaran sungai di lingkungan peserta didik. Demonstrasi, peserta didik diminta menampilkan hasil penugasan kepada orang lain mengenai kompetensi yang telah mereka kuasai. Demonstrasi ini dapat dilakukan di kelas atau di luar kelas. Di dalam kelas antara lain dapat dilakukan dalam kegiatan laboratorium IPA, di lapangan olahraga untuk pelajaran Pendidikan Jasmani dan Olahraga. Di luar kelas antara lain peserta didik diminta membentuk kelompok untuk membuat naskah drama dan mementaskannya dalam pertunjukan, para penonton dapat memberikan evaluasi pertunjukan peserta didik.
DAFTAR PUSTAKA
Dit-PLP-Ditjen Dikdasmen-Depdiknas.(2003). Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Jakarta.
Padil Moh., Triyo Supriyatno, Sosiologi Pendidikan, UIN-Maliki Press: 2010, Malang.
www.beranda-jiwa.info
BAB III
PENUTUP
Guru adalah komponen pokok dalam sistem pendidikan. Oleh sebab itu suksesnya pelaksanaan KTSP sangat tergantung pada sikap guru alam mengajar. Kurikulum yang selama ini dibuat dari pusat menyebabkan kreativitas guru kurang terpupuk, tetapi dengan KTSP, kreativitas guru bisa berkembang. Menggunakan paradigma lama dalam mengajar untuk menghadapi tantangan baru dan situasi baru jelas kurang efektif. Agar kualitas pendidikan kita meningkat, guru perlu melakukan introspeksi dan mau mengubah paradigma mengajar, cara berpikir serta mempraktekkan pembelajaran dengan menggunakan paradigma belajar. Guru sebagai ujung tombak pembelajaran sudah sekian lama menggunakan metode lama, ia menjadi sumber belajar utama. Paradigma mengajar tersebut itu harus diubah dengan menggiatkan peserta didik agar dapat mencapai komepetensinya melalui penguasaan materi ajar.
Labels:
sosiologi pendidikan
Subscribe to:
Posts (Atom)