Showing posts with label PARIWISATA. Show all posts
Showing posts with label PARIWISATA. Show all posts

Wednesday, August 26, 2015

Museum Kreta Api AMBARAWA

adalah sebuah stasiun kereta api yang sekarang dialihfungsikan menjadi sebuah museum di Ambarawa, Jawa Tengah yang memiliki kelengkapan kereta api yang pernah berjaya pada zamannya. Salah satu kereta api uap dengan lokomotif nomor B 2502 dan B 2503 buatan Maschinenfabriek Esslingen sampai sekarang masih dapat menjalankan aktivitas sebagai kereta api wisata. Kereta api uap bergerigi ini sangat unik dan merupakan salah satu dari tiga yang masih tersisa di dunia. Dua di antaranya ada di Swiss dan India. Selain koleksi-koleksi unik tadi, masih dapat disaksikan berbagai macam jenis lokomotif uap dari seri B, C, D hingga jenis CC yang paling besar (CC 5029, Schweizerische Lokomotiv und Maschinenfabrik) di halaman museum.
ambaraw
Museum ini melayani kereta wisata Ambarawa-Bedono pp, Ambarawa-Tuntang pp dan lori wisata Ambarawa-Tuntang pp. Kereta wisata Ambarawa-Bedono pp atau lebih dikenal Ambarawa Railway Mountain Tour ini beroperasi dari Museum ini menuju Stasiun Bedono yang jaraknya 35 KM dan ditempuh 1 jam untuk sampai stasiun itu. Kereta ini melewati rel bergerigi yang hanya ada di sini dan di Sawahlunto. Panorama keindahan alam seperti lembah yang hijau antara Gunung Ungaran dan Gunung Merbabu dapat disaksikan sepanjang perjalanan. Pemandangan yang dapat dinikmati dari kereta dan lori Ambarawa-Tuntang pun tak kalah bagusnya. Kereta ini berangkat dari stasiun menuju Stasiun Tuntang yang berada sekitar 7 km dari museum. Di sepanjang jalan dapat dilihat lanskap menawan berupa sawah dan ladang dengan latar belakang Gunung Ungaran, Gunung Merbabu, dan Rawa Pening di kejauhan.Harga karcis kereta wisata adalah Rp50.000 per orang, sedangkan lori Rp10.000 per orang. Harga sewa kereta Rp3.000.000

Sunday, August 24, 2014

Jembangan Wisata Alam


Jembangan Wisata Alam terletak di kecamatan Poncowarno Kebumen. Waduk ini tak kalah menarik dari dua waduk lainnya yaitu waduk sempor dan waduk wadaslintang. Waduk Jembangan terletak di kawaasan pegunungan kecamatan Poncowarno Kebumen. Tempatnya sangat indah, dan sangat layak untuk wisata alam besama keluarga anda. Utamanya untuk mengenalkan kepada anak-anak terkait keindahan alam pegunungan serta merawat dan melestarikannya. Maju terus wisata Kebumen , dengan munculnya waduk jembangan akan menambah potensi income masyarakat maupun pemerintah.

wisata jembangan
Jembangan Wisata Alam (JWA) merupakan salah satu kawasan objek wisata yang ada di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kawasan objek wisata ini terbilang masih baru, didirikan pada tahun 2011 oleh Bupati Kebumen yang baru terpilih yaitu H.Buyar Winarso, S.E. Kawasan objek wisata JWA menawarkan pemandangan telaga hijau dengan hutan hijau bersisian di sampingnya, di bagian ujung telaga ini dimanfaatkan sebagai bendungan air yaitu bendungan Pejengkolan, terusan pintu air bagian timur dari waduk Wadaslintang yang berada di Kabupaten Kebumen. Untuk menuju kawasan JWA ini di pintu masuk anda akan dikenai biaya tiket Rp 3000 dan biaya parkir Rp 2000/motor.
Site Utama
Di dalam kawasan JWA ini terdapat tiga site utama yang dapat dinikmati oleh pengunjung yaitu Telaga hijau yang bersisian dengan hutan yang masih alami, Waduk Pejengkolan dan Jembatan Gantung.
Untuk berkeliling menikmati telaga Jembangan yang bersisisan dengan hutan hijau dapat menggunakan wahana perahu air. Sementara untuk menuju jembatan waduk Pejengkolan dan Jembatan gantung anda sama sekali tidak dikenakan biaya. Namun letak kedua objek ini agak jauh dari kawasan utama telaga. Jembatan Waduk Pejengkolan terletak di sisi kanan pintu masuk sementara Jembatan Gantung terletak di sebelah kiri pintu masuk. Sebenarnya anda dapat menikmati kedua objek ini tanpa repot-repot menuju lokasinya langsung dengan menggunakan perahu mesin, namun tentu akan dikenai biaya tambahan jika anda meminta mengunjungi kedua jembatan ini karena lokasinya yang memang cukup jauh dari dermaga tempat perahu mesin bersandar. Namun kedua jembatan ini tidak kalah menariknya, Jembatan Pejengkolan merupakan jembatan permanen dari beton dan sudah beraspal dengan panjang kurang lebih 500 meter, sementara Jembatan Gantung merupakan jembatan semi permanen dengan bangunan beton besi di kedua ujungnya dan jembatannya itu sendiri terbuat dari papan kayu yang digantung.
Wahana
Selain menawarkan pemandangan telaga hijau yang luas, di kawasan JWA ini juga menawarkan berbagai wahana untuk belajar atau permainan anak-anak seperti Jembangan Fantasy Zoo, Wahana permainan anak dan Perahu air.
Jembangan Fantasy Zoo merupakan wahana belajar satwa bagi anak. Di wahana ini tersedia berbagai satwa yang sengaja didatangkan dari Kabupaten seperti aneka burung, gajah, kera dan lain sebagainya. Kebanyakan yang mengunjungi wahana ini merupakan siswa-siswi pelajar tingkat sekolah dasar yang datang berombongan didampingi oleh guru-guru mereka. Tiket masuk menuju wahana ini Rp 5000/orang.
Wahana permainan anak yang tersedia layaknya wahana permainan untuk anak-anak pada umumnya seperti perosotan,ayunan, wahana putaran untuk anak dan lain sebagainya. Tiket masuk wahana ini berkisar Rp 3000-5000/orang.
Perahu air ini dinikmati pengunjung untuk berkeliling menyusuri luasnya telaga Jembangan. Jenis perahu air ini terdiri dari dua macam yaitu  perahu air unitkecil menggunakan tenaga manusia yaitu dengan gowes layaknya sepeda, dan perahu air unit besar berbentuk naga yang menggunakan tenaga mesin untuk mengoperasikannya. Perahu unit kecil disewakan dengan harga per unit Rp 15.000 untuk kapasitas dua orang/30 menit. Sementara Perahu unit besar disewakan dengan harga Rp 15.000/orang. Perahu unit besar ini enak dinikamti jika anda datang secara berombongan.
Aksesibilitas
Kawasan JWA tereletak di desa Jembangan, Kecamatan Poncowarno, Kabupaten Kebumen. Kecamatan Poncowarno ini merupakan Kecamatan yang terletak pada dataran tinggi. Prasara menuju lokasi kawasan wisata ini sudah sangat mendukung, yaitu jalan mulus beraspal hitam mengkilap, jalan berkelok-kelok mengikuti topografi yang ada. Namun prasarana yang ada tidak didukung dengan sarana transportasi yang baik. Tidak ada sarana transportasi umum untuk menuju lokasi kawasan JWA ini. Kawasan JWA hanya bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi berjarak kurang lebih 20 Km dari Kebumen Kota. Dengan kata lain lokasi ini aksesibilitasnya masih rendah. Hal ini wajar, jika pengunjung kawasan JWA ini masih terbilang jarang. Padahal publikasi dari dinas pariwisatanya sendiri sudah dilakukan secara gencar.
Geografi Pariwisata
Dalam studi Geografi Pariwisata, selain objek yang menarik (Site Attraction), pelayanan dan fasilitas yang tersedia, yang dapat mendukung majunya industri pariwisata adalah kemudahan aksesibilitas dan didukung oleh promosi. Aksesibilitas ini berhubungan dengan letak geografis dan kemudahan jangkauan transportasi umum menuju lokasi wisata. Oleh karena itu pemerintah dan dinas terkait (Dinas Pariwisata) harus menyediakan sarana transportasi publik menuju kawasan JWA ini agar bisa diakses oleh orang-orang yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Apalagi Kawasan JWA merupakan ikon terbaru dari Kabupaten Kebumen. Harapan kedepannya dengan dibukanya kawasan JWA sebagai objek wisata baru, dapat mengenalkan potensi Kabupaten Kebumen kepada khalayak umum sehingga meningkatkan pendapatan daerah dari sektor wisata.

Sekilas Tentang Goa Barat Di Kebumen


Terdapat air terjun dengan ketinggian 8 meter yang disebut Jump Ulysses yang artinya adalah “sang petualang cerdik” dalam mitologi Yunani. Dalam udara pengap disertai suara gemuruh air, para petualang melakukan penjelajahan ke dalam gua yang gelap gulita.

Kurang lebih 20 meter dari Jump Ulysses terdapat air terjun yang lebih tinggi denga ketinggian 32 meter dan diberi nama Superman’s Big Sister.

Bebatuan runcing yang menjulur dari atas langit-langit gua atau biasa disebut stalaktit banyak ditemukan di dalam gua ini, menambah suasana di dalam gua sangat unik dan menakjubkan.

Karena banyaknya jeram di dalamnya, Gua Barat merupakan gua yang paling berat untuk dijelajahi. Para petualang harus berani dan tangguh untuk menelusuri lorong besar Gua Barat yang gelap dan pengap.

Nama Superman’s Big Sister diberikan oleh Cahyo Alkantana, seorang pria yang pertama kali berhasil menerobos Gua Barat hingga hampir mencapai ujung ketika tahun 1996 lalu. Bersama dengan tim gabungan Indonesia-Prancis, dia menelusuri Gua Barat yang besar dan mengagumkan

Dari 100 air terjun yang terdapat di lorong Gua Barat ini, mereka berada pada ruas 2 kilometer terakhir setelah Jump Ulysses sampai Muddy Passage, kira-kira 200 meter dari pintu keluar bernama Tataquine.

Di mulut gua ini para petualang memulai dan mengakhiri penjelajahan. Nama Gua Barat ini sesuai dengan karakter alamiah mereka, yaitu angin kencang dari arah dalam seringkali menerpa mulut gua. Angin kencang tersebut dalam bahasa Jawa dijuluki angin barat
Angin barat adalah angin kencang yang datang pada musim tertentu dan biasanya disertai dengan munculnya jamur di tanah. Sehingga masyarakat menyebutnya jamur barat, artinya jamur yang dikeluarkan oleh angin barat.

Di Gombong Selatan, kebumen Jawa Tengah, tepatnya di Desa redisari kec Rowokele disana terdapat gua menakjubkan yang paling menantang di dunia, dialah Gua Barat. Thanks to Www.Tempo.Co.

Wisata Pantai Di Kebumen

Wisata pantai di kabupaten kebumen tidak kalah dg pantai pantai d daerah lain
Dari kebumen daerah barat ada Pantai Ayah di desa Ayah kec. Ayah
Ke timur ada pantai pasir di desj Pasir kec. Ayah
Ketimur lagi ada pantai karangbolong di desa Karangbolong. kec. Ayah
Sebelah timurnya lagi ada pantai suwuk di kec puring
Dan di timurnya lagi ada pantai petanahan di desa petanahan kec. Petanahan
Timurnya lg ada pantai bocor.. dan masih banyak lagi lainya...

Saturday, August 9, 2014

Visi Dan Misi Desa Demangsari dan Gambaran Umum dan Sejarah Desa Demangsari

A. VISI

Visi adalah suatu gambaran yang menantang tentang keadaan masa depan yang diinginkan dengan melihat potensi dan kebutuhan desa. Penyusunan Visi Desa Demangsari ini dilakukan dengan pendekatan partisipatif, melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan di Desa Demangsari seperti Pemerintah Desa, BPD, LKMD, Tokoh Masyarakat dan masyarakat desa pada umumnya.

Pertimbangan eksternal di desa seperti satuan kerja wilayah pembangunan di kecamatan, maka berdasarkan pertimbangan diatas Visi Desa Demangsari adalah :

“ TERWUJUDNYA DESA PERTANIAN YANG MASYARAKATNYA MAJU DAN DINAMIS MENUJU KESEJAHTERAAN BERSAMA TERPENUHI PELAYANAN

DASARNYA SECARA ADIL YANG DIDUKUNG DENGAN PEMERINTAHAN YANG BAIK DAN TRANSPARAN SERTA DIDUKUNG APARAT YANG BERSIH DAN BERWIBAWA SERTA TAQWA KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA “

MISI 
Selain Penyusunan Visi juga telah ditetapkan misi-misi yang memuat sesuatu pernyataan yang harus dilaksanakan oleh desa agar tercapainya visi desa tersebut. Visi berada diatas Misi, pernyataan Visi kemudian dijabarkan kedalam misi agar dapat dioperasionalkan / dikerjakan. Sebagaimana penyusunan Visi, misipun dalam penyusunannya menggunakan pendekatan partisipatif dan pertimbangan potensi dan kebutuhan Desa Demangsari sebagaimana proses yang dilakukan maka misi Desa Demangsari adalah sebagai berikut :

1. Meningkatkan sarana pertanian dan perekonomian yang ada di Desa.
2. Menyelenggarakan sistem pelayanan dasar dalam Bidang Pemerintahan, Pembangunan dan Kemasyarakatan secara adil dan transparan.
3. Mendorong tercapainya Lembaga Perekonomian Desa yang profesional dan meningkatkan derajat kehidupanmasyarakat.
4. Mendorong kegiatan dunia usaha guna menciptakan lapangan kerja.
5. Mengoptimalkan pemanfaatan Sumber Daya Ekonomi Desa sesuai dengan Potensi Desa.
6. Menciptakan keamanan yang kondusif untuk melakukan kegiatan usaha.
7. Mendorong terbentuknya sikap dan perilaku anggota masyarakat di Pemerintahan Desa yang menghormati danmenjunjung tinggi hukum yang berlaku.
8. Mengerakkan kegiatan sosial dan keagamaan untuk lebih meningkatkan kualitas Keimanan dan Ketaqwaan.
9. Menghargai Musyawarah dan Keputusan sesuai dengan keadilan yang melibatkan perempuan serta anak dan remaja. 


2.
2.1 Pengertian Desa
Ø Desa adalah Kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ø Pemerintah Desa adalah Kepala Desa dan Perangkat Desa.
Ø Pemerintahan Desa adalah kegiatan Pemerintahan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa meliputi Pemerintahan, Pembangunan dan Kemasyarakatan.
Ø Orang yang diberi kepercayaan memimpin suatu Desa atau Pemerintah Desa dikategorikan menjadi beberapa sebutan diantaranya adalah :

1. Demang
Demang atau yang sering disebut Lurah adalah sebutan atau julukan bagi seorang pemimpin suatu wilayah atau desa atau pemangku desa yang bertugas memimpin masyarakat dalam suatu desa untuk menjalankan pemerintahan desa.
Dalam menjalankan tugas sehari-hari nya Demang atau Lurah ini memiliki beberapa pembantu yang disebut abdi atau yang sekarang disebut dengan Perangkat Desa.
Jabatan ini didapat dengan melalui sistim turun-temurun dengan penghasilan yang didapat dari Demang atau Lurah ini adalah Tanah Kekayaan Desa atau kita sebut Bengkok dan dari sumber pendapatan lain yang sah seperti pungutan desa.

2. Glondong
Glondong adalah sebutan atau julukan bagi seorang pemimpin suatu wilayah atau desa atau pemangku desa yang bertugas memimpin masyarakat dalam suatu desa untuk menjalankan pemerintahan desa dan memimpin atau mengetuai beberapa Lurah / Kepala desa di Wilayah tersebut ( istilah sekarang ketua Paguyuban Kepala Desa )
Jabatan ini didapat dengan melalui Turun-temurun kemudian ada perubahan yaitu ditunjuk oleh beberapa tokoh masyarakat tertentu.
Tugas glondong sama dengan tugas seorang Demang/Kades/Lurah, sekaligus bertugas memimpin / membawahi beberapa abdi.
Penghasilan yang didapat dari Demang atau Lurah adalah Tanah Kekayaan Desa atau kita sebut Bengkok dan dari sumber pendapatan lain yang sah ( pungutan )

3. Kepala Desa
Kepala Desa ( Kades ) adalah seseorang yang diangkat dipilih oleh warga masyarakat atas dasar musyawarah dengan perolehan suara terbanyak / pemilihan
Kepala Desa bertugas memimpin masyarakat dalam suatu desa untuk menjalankan program-program pemerintah dan menjaga / memelihara adat istiadat yang ada di desa tersebut.
Dalam menjalankan tugas-tugasnya Kades dibantu oleh beberapa bawahan yang disebut Perangkat Desa dan Perangkat Desa Lainnya.
Perangkat Desa terdiri dari Sekretaris Desa ( Sekdes ), para Kepala Urusan dan Pembantu Kepala Urusan, Para Kepala Dusun ( Kadus ) atau sering disebut Bau / Congkok.
Sedangkan Perangkat Desa Lainnya adalah Perangkat Desa yang meliputi Kepala Urusan, Kepala Dusun dan Pembantu Kepala Urusan.
Penghasilan yang diperoleh oleh Kepala Desa adalah Tanah Kekayaan Desa atau kita sebut Bengkok, sumber pendapatan lain yang sah ( seperti pungutan desa ) dan Tunjangan Perangkat Desa yang sumbernya dari APBD Kabupaten / Kota.

4. Lurah
Lurah adalah Pemimpin desa yang berasal dari Perangkat Pemerintah Daerah/ Kabupaten / Kota yang diberi tugas untuk memimpin masyarakat dalam suatu Kelurahan atau disebut Kepala Kelurahan untuk menjalankan Program-program Pemerintah.
Lurah adalah Pegawai Negeri Sipil ( PNS ) maka pendapatan yang ia terima adalah APBD / APBN dan dari sumber pendapatan lain yang sah ( pungutan desa )
Lurah mempunyai bawahan atau Perangkat sama hal nya dengan Kepala Desa.

2.2 Sejarah Berdirinya Desa Demangsari
Berdasarkan sumber yang kami dapatkan, bahwa nama Desa Demangsari adalah merupakan penyatuan nama dua desa yaitu Kademangan dan Wanasari. Konon sebelum kemerdekaan ( di masa penjajahan ) terdapat 2 ( dua ) wilayah yaitu kademangan yang dipimpin oleh seorang lurah begitu pula dengan wanasari yang dipimpin oleh seorang lurah dan pada dekade sebelum kemerdekaan dua nama desa yaitu Kademangan dan Wanasari menjadi Demangsari yang seterusnya diperintah oleh seorang Lurah / Kepala Desa sampai sekarang.
Letak wilayah Kademangan pada saat sebelum disatukan berada di selatan sungai Sagon II atau Sungai Kagol, tepatnya berada di wilayah Dusun Kademangan, RW. 08 Desa Demangsari, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen.
Sedangkan Wanasari sendiri wilayahnya berada di Dusun Wanasari, RW. 02, Desa Demangsari, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, yang bahkan hingga saat ini masih ada peninggalan bangunan berupa Togor atau tugu yang terbuat dari pasangan batu bata merah.

Adapaun Sejarah Kepemimpinan Desa Demangsari sebelum dan sesudah Kemerdekaan adalah sebagai beikut :

1. Kademangan
a. Pada tahun 1916 sd. 1922 atau selama enam tahun Kademangan dipimpin oleh seorang Demang atau Lurah yang bernama Imam Buhari.
b. Pada tahun 1923 sd. 1926 atau selama tiga tahun, Kademangan dipimpin oleh seorang Demang atau Lurah bernama Imam Puro
c. Pada tahun 1927 sd. 1933 atau selama enam tahun, Kademangan dipimpin oleh seorang Demang atau Lurah bernama Praya Sentika.
d. Pada tahun 1934 sd. 1936 atau selama dua tahun, Kademangan dipimpin oleh oleh seorang Demang atau Lurah bernama Kartadinama al Cakradinama.

2. Wanasari
Pada tahun 1922 sd. 1936 atau selama empat belas tahun Wanasari dipimpin oleh seorang Demang atau Lurah yang bernama Wana Menggala.

3. Demangsari
Penggabungan dua Desa yaitu antara Kademangan dengan Wanasari dilaksanakan pada saat setelah Indonesia Merdeka yaitu tahun 1945.

Sejak itulah Desa Demangsari mulai dipimpin oleh seorang Lurah atau Kepala Desa yang sistim pengangkatanya melalui Pemungutan suara atau Pemilihan, walaupun pelaksanaan pemungutan suara tersebut juga masih menggunakan alat atau mediasi atau alat peraga yang awalnya masih amat sederhana.

Kepala Desa di Desa Demangsari sejak Tahun 1945 adalah :

1. Hadi Sucipto alias Kanan
Memerintah Desa Demangsari pada tahun 1945 - 1961
2. Hardjo Martoyo
Memerintah Desa Demangsari pada tahun 1962 - 1967
3. Pambudi
Memerintah Desa Demangsari pada tahun 1968 - 1971
4. Sastro Pawiro alias Saiman
Memerintah Desa Demangsari pada tahun 1972 - 1988
5. Mudjiono
Memerintah Desa Demangsari pada tahun 1989 - 1998
6. Saridi, A.Md
Memerintah Desa Demangsari pada tahun 1999 – 2007
7. Tusinah SP alias Genuk
Memerintah Desa Demangsari pada tahun 2007 - 2013 
8. jeded 
Memerintah Desa Demangsari pada tahun 2013-sekarang

1. Sejak 1945 atau setelah Kemerdekaan Republik Indonesia hingga tahun 1961 atau selama enam belas tahun lamanya Desa Demangsari dipimpin oleh seorang Kepala Desa ( Kades ) bernama Hadi Sucipto al Kanan.
Di era ini teknis pelaksanaan pemilihan Kepala Desa atau Lurah melalui sistim pemilihan, akan tetapi karena kurangnya fasilitas atau alat yang dibutuhkan maka pemilihan ini dilakukan melaui voting dengan istilah yang digunakan saat itu adalah “ Dodokan “. ( dalam bahasa Indonesia artinya : duduk )
Masyarakat yang menyampaikan hak pilih akan duduk di sebelah Calon Kepala Desa yang dia pilih dengan bergerombol.
Dengan kondisi pada saat itu yang masih serba kekurangan dalam menjalankan Pemerintahanya berkantor di rumah Lurah / Kades
Dalam menyampaikan tugasnya kepada perangkatnya, Kades hanya membunyikan Kentongan dengan tand-tanda tertentu, kemudian para perangkat baru datang ke kantor / rumah Kades / Lurah tersebut.
Namun setelah masa kerjanya berakhir, tidak berlangsung lama mantan Kades ini meninggal dengan Gantung Diri karena mengidap gangguan kejiwaan. 

2. Pada tahun 1962 sd. 1967 atau selama lima tahun, Desa Demangsari dipimpin oleh seorang Kepala Desa atau Lurah yang bernama Martoyo.
Proses Pemilihan ini menggunakan sistim voting namun fasilitas yang digunakan belum menggunakan Lambang atau gambar, akan tetapi menggunakan Biting ( lidi yang dipotong-potong dengan ukuran panjang sekitar 5 sd 7 cm )
Namun Pemerintahan ini tidak rampung dalam satu periode karena pada saat itu menurut sumber yang kami peroleh, Bp. Martoyo terlibat Gerakan terlarang pada tahun 1965 sehingga dihentikan dengan tidak hormat oleh pemerintah.

3. Pada tahun 1968 sd. 1971 atau sekitar tiga tahun lamanya, Desa Demangsari dipimpin oleh seorang Kepala Desa atau Lurah yang bernama Pambudi.
Kades atau Lurah Pambudi adalah seorang Tentara yang diberi tugas untuk menjabat memerintah / memimpin desa demangsari ( Kartiker ) setelah Kades / Lurah Martoyo dihentikan dengan tidak hormat. 

4. Pada tahun 1972 sd. 1988 atau selama enam belas tahun, Desa Demangsari dipimpin oleh seorang Kepala Desa atau Lurah yang bernama Sastro Pawiro al Saiman.
Untuk kali pertamanya di Desa Demangsari dilaksanakan Pemilihan Kepala Desa / Lurah yaitu dalam kepemimpinan Kades Sastro Pawiro al Samin.
Lambang atau gambar yang digunakan pada saat itu menggunakan gambar buah-buahan, dan kebetulan Bp. Sastro Pawiro ala Saiman pada saat itu menggunakan lambang / gambar buah Petai, sedang tempat pelaksanaan pemilihannya di Pasar Demangsari.

Ada 7 ( tujuh ) orang yang mencalonkan sebagai Kepala Desa Demangsari pada tahun 1972, diantaranya adalah :
1. Sastro Pawiro al. Saiman
2. Amad Khaerudin al. Amad Siro
3. Mauludin
4. Seno
5. Suripto
6. H. Umar Maksudi
7. H. Mukhtar

5. Pada tahun 1989 sd. 1998 atau selama delapan tahun Desa Demangsari dipimpin oleh seorang Kepala Desa bernama Mudjiono.
Beliau ini adalah putra kandung Bp. Hadi Sucipto alias Kanan yang memerintah Desa Demangsari pada tahun 1945 – 1961.
Saat itu yang mencalonkan Kepala Desa ada 4 orang diantaranya adalah
1. Mudjiono = 1013
2. Yuli Mudiono = 344
3. Basuki raharjo = 466
4. Sudiro = 372
Sejak Kepala Desa Mudjiono ini lah Desa Demangsari membangun sebuah Pendopo / Aula balai Desa hingga sekarang.

6. Pada tahun 1999 sd. 2007 atau selama delapan tahun Desa Demangsari dipimpin oleh seorang Kepala Desa bernama Saridi, A.Md
Sebelum menjadi Kepala Desa, Bp. Saridi ini adalah seorang Guru Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri III Desa Demangsari dan sudah menjadi Pegawai Negri Sipil bahkan berprofesi lain sebagai Dalang Wayang Kulit sehingga sangat menjunjung tinggi terhadap keberadaan Adat Jawa ( kesenian jawa ) di Desa Demangsari khususnya.
Bp. Saridi terpilih menjadi Kepala Desa Demangsari pada tahun 1999, pada saat itu calon Kepala Desa nya antara lain adalah :
1. Saridi A.Md
2. Sri Atmaji
3. Sumarno
4. Mudjiono
5. Sudiman
6. Imam Mujahid

7. Pada Tahun 2007 sampai 2013 Desa Demangsari dipimpin oleh seorang Kepala Desa perempuan yaitu Ibu Tusinah SP, yang merupakan anak kandung dari Kepala Desa Bp. Sastro Pawiro alias Saiman yang memimpin Desa Demangsari pada tahun 1972 sd. 1988.
Ibu Tusinah terpilih menjadi Kepala Desa pada hari Sabtu bulan, 27 Juli 2007 dengan para calon saat itu adalah :
1. Tusinah SP
2. Sarikin al Kaswadi
3. Kartam al Hadi Sucipto

8. pada tahun 2013 dipimpin oleh bapak jeded (admin tidah tau mnama asliny :D)
pada tahun itu hanya ada dua calon yaitu 
a. bpk warisman alias jeded
b. Bapak supriyanto


Ada beberapa Legenda Desa Demangsari sebagai berikut :

1. Pada zaman dahulu sebagian besar masyarakat Desa Demangsari mempunyai adat istiadat kepercayaan yaitu pada bulan-bulan tertentu mempercayai tidak diperkenankan punya hajat ( Pernikahan dan Khitanan ) terutama bulan syura kalau dilanggar akan membewa mala petaka bahkan saat inipun adat istiadat itupun masih berjalan

2. Pada menjelang musim tanam dan panen padi di setiap sudut pematang sawah diberi sesaji berupa kembang telon, dan menjelang panen dibuatkan Tumpeng Jabel ( Mogana ) dikendurikan di sawah dengan harapan akan mendatangkan berkah.

3. Pada setiap bulan Syura mengadakan Syuran dengan menyembelih Kambing kepalanya ditanam diperempatan jalan, dagingnya dimasak becek, sebagian kecil organ kambing diambil ditambah obo rampe komaran untuk sesaji, sore harinya diadakan kenduri.

4. Pada setiap Grumbul Se Desa Demangsari mengadakan Baritan ( Sedekah Bumi / Sadranan ), Wayangan dan Tayuban; Dan sekarang adat tersebut diadakan ditingkat desa untuk menghemat waktu dan biaya.

5. Kepercayaan penduduk Desa Demangsari disetiap menjelang Khajatan baik Pernikahan maupun Sunatancalon penganten diharuskan ziaroh ( Resik ) kubur dan tempat yang dikeramatakan. Sehari sebelum Khajatan dilaksanakan, tuan rumah harus memasang sesaji ( kucingan ) baik dirumah, pojok tarub, sumur dan tempat - tempat keramat, tuan rumah juga mempercayakan sesepuh sebagai Goni ( Orang yang dianggap ampuh ) kalau tidak dilaksanakan dikhawatirkan akan mendatangkan mala petaka.

6. Setiap ada orang meninggal sebelum dibawa kepemakaman sanak saudara almarhum supaya nylusup ( berjalan keliling 3 kali dibawah mayat yang sedang dipikul ) dipercayai agar tidak membayangi kehidupan mereka


2.3 Kondisi Umum Desa Demangsari
a. Geografis / Letak dan luas Wilayah
Wilayah Desa Demangsari merupakan area seluas 296.550 Ha, Desa Demangsari terdiri dari 4 ( Empat )Dusun, 10 RW dan 28 RT yaitu :

1. Dusun I Wil Kademangan ( 3 RW terdiri dari 7 RT ) terletak disebelah Timur
2. Dusun II Wil Wanasari Lor ( 2 RW terdiri dari 7 RT ) terletak disebelah Utara
3. Dusun III Wil Wanasari Kidul (2 RW terdiri dari 6 RT) terletk disebelah Barat
4. Dusun IV Wil Kabuatan (3 RW terdiri dari 7 RT) terletak disebelah Selatan

Dalam lingkungan regional Desa Demangsari terletak pada jalan alternatif menuju ke Jakarta apabila terjadi kemacetan antara Tambak sampai Buntu.

Secara Administrasi Desa Demangsari merupakan salah satu dari 18 ( Delapan belas ) desa diwilayah kecamatan Ayah yang bisa dikatakan sebagai ibukota Kecamatan karena Di Desa Demangsari terdapat Instansi-instansi penting seperti Kantor Camat Ayah, BUMN dan lain-lain. Jarak tempuh Dari Kantor Desa ke Kantor Kecamatan 0,5 Km sedangkan Jarak Desa Ke Pusat Kabupaten ± 45 Km ditempuh dalam waktu 1 Jam
Secara Administratif Wilayah Desa Demangsari mempunyai batas-batas antara lain
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Candirenggo
- Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Kedungweru dan Kabupaten Banyumas
- Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Jatijajar
- Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Bulurejo dan Desa Kedungweru

b. Iklim
Iklim Desa Demangsari, sebagaimana desa-desa lain diwilayah Indonesia mempunyai iklim Kemarau dan Penghujan, hal tersebut mempunyai pengaruh langsung terhadap pola tanam yang ada di Desa Demangsari, Kecamatan Ayah
Iklim merupakan salah satu faktor yang berpengaruh pada pertumbuhan tanaman. Iklim bersama -sama dengan tanah dan makhluk hidup ( manusia, hewan dan vegetasi ) akan saling berinteraksi dalam kurun waktu tertentu dan akan menetukan kondisi lingkungan hidup suatu wilayah. Desa Demangsari termasuk beriklim tropis dan terbagi menjadi 2 ( dua ) musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan.

Wednesday, May 7, 2014

Legenda Goa Petruk


Kesetiaan Punakawan (Ki Lurah Semar, Gareng, Petruk, dan Bawor/Bagong) pada Junjungannya tidak diragukan lagi, sekalipun menjalani kesengsaraan, mereka tak pernah berpaling. Meski berdiam di hutan belantara, demi menemani Junjungannya yang sedang bertapa, dengan sabar dan ikhhlas mereka lalui. Hidup sederhana, bersahaja menjadi takdir yang tak bisa dipungkiri. Namun, disekitar merakalah Dewata Yang Agung menurunkan Wahyu yang selalu menjadi perebutan para Kesatria di Bumi. Dikisahkan seorang Begawan bernama Mentaraga yang menjalankan tapa-barata menjelang pecahnya perang Baratayudha. Sang Begawan menjalankan tapa-bratanya di goa Andrakila. Sangat mengherankan ketika sang Begawan diiringi oleh Punakawan, yang selama ini Punakawan lebih dikenal dekat dengan Raden Arjuna (putra Pandawa ke tiga). Sementara Begawan Mentaraga bertapa didalam Goa, para Punakawan dengan setianya menanti diluar Goa. Perang Baratayudha demikian menarik perhatian para Kesatria bahkan Resi, Empu, dan Brahmana. Sekalipun sudah menjadi takdir Dewata Yang Agung. Namun, upaya mengelak bahkan menggagalkan senantiasa dilakukan oleh para Imam Suci (Resi, Empu, dan Brahmana), supaya tidak ada jatuh korban dari kedua belah pihak. Dua kekuatan besar antara Pandawa dan Kurawa, belum lagi kekuatan lain yang mendukung keduanya. Sang Begawan sadar perang Baratayuda tidak dapat dihindarkan. Setelah sekian lama berlalu, Begawan Mentaraga belum juga keluar dari pertapaannya, penantian tak kunjung usai, keresahan pun mulai dirasakan Ki Lurah Semar hingga berujung pada tekat Ki Lurah Semar untuk melihat apa yang terjadi didalam Goa. Bersama Petruk, Ki Lurah Semar menerobos masuk Goa Andrakila untuk memastikan kondisi Junjungannya, sementara Gareng dan Bawor tetap menanti diluar Goa. Namun apa yang terjadi sungguh diluar dugaan mereka, Begawan Mentaraga tidak dijumpai seakan lenyap ditelan Bumi. Terlanjur masuk kedalam Goa, Ki Lurah Semar dan Petruk akhirnya memutuskan untuk bertapa. Wahyu Baratayudha menjadi harapan Ki Lurah Semar, sementara Petruk meminta petunjuk untuk dapat bertemu orang tuanya yaitu Gandarwo Seto. Setelah mendapatkan wahyu yang diharapkan keduanya pun bergegas keluar dari dalam goa tetapi menempuh lorong yang berbeda. Sementara Ki Lurah Semar kembali ketempat Gareng dan Bawor, tetapi Petruk tak kunjung datang. Mereka pun mencari keberadaan Petruk, hingga akhirnya Petruk ditemukan sedang duduk santai dipinggir pantai. Demikian kisah yang melatarbelakangi keberadaan Goa Andrakila yang konon terdapat patung petruk yang sedang berdiri yodong menerima wahyu dari Dewata Yang Agung. Oleh karena itu, goa ini mulai di kenal dengan nama Goa Petruk. “Pada saat-saat tertentu, didinding goa sering terlihat sosok bayangan yang menyerupai Petruk, apabila didekati bayangan tersebut menghilang.� kata Mbah Rudin (74), Juru kunci Goa Andrakila. Goa Petruk terletak di Desa Candi Renggo, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Goa ini berada diatas bukit kapur dengan ketinggian 75 M diatas permukaan laut. Goa Petruk memiliki dua lorong yang panjang, pada lorong kanan panjangnya mencapai 2000 M, sedangkan pada lorong kiri 664 M. Selain memiliki lorong yang panjang, Goa Petruk memiliki tiga tingkat atau tiga susun diatasnya. Tingkat pertama medannya cukup nyaman dan mudah dijangkau oleh pengunjung untuk wisata alam juga penelitian. Pada tingkat kedua konon terdapat patung Petruk berdiri nyodong (mengulurkan tangan), karena ulah penambangan Pospat oleh VOC Belanda yang menggunakan bahan peledak maka patung Petruk ikut runtuh, sehingga saat ini patung petruk sudah tidak ditemukan lagi. Pada tingkat ketiga medannya sangat sulit untuk pengunjung, lokasi ini hanya dapat dijangkau menggunakan alat panjat tebing.(topik)


sumber:http://bit.ly/1opuoyH

Gua Petruk


GOA PETRUK

merupakan salah Obyek wisata di Kabupaten Kebumen,Jawa Tengah. Pantai Logending, dimana lokasinya berada di dukuh Mandayana Desa Candirenggo Kecamatan Ayah, kabupaten Kebumen, Jawa Tengah atau sekitar 4,5 km dari Jatijajar menuju ke arah selatan.

Mendengar nama Petruk, orang tentu akan teringat nama Ponokawan anak Ki Semar yang berbadan tinggi, namun hidungnya sangat mancung. Konon, dalam cerita pewayangan, Petruk ini anak dari lelembut Banaspati yang kemudian diambil anak oleh Ki Semar dan Petruk ini dikenal mempunyai banyak akal.

Perlu diketahui, bahwa di dalam Goa yang mungkin terlihat cukup menakutkan, karena tak ada pijaran atau nyala lampu seperti di Goa Jatijajar, atau Goa lain yang ada di Indonesia.
pengunjung jangan khawatir, di sini tersedia Guide atau pemandu yang selalu siap mengantar disertai dengan peralatan lampu yang memadai.

Tiga Goa Goa Petruk ini sebetulnya terbagimenjadi tiga bagian. Bagian pertama atau di lantai I hanya terdapat kelelawar dengan bau kurang sedap dan beterbangan ke sana kemari. Sedang untuk Goa kedua dalam lokasi tersebut diberi nama Goa Semar.

Dalam Goa inilah kita akan disuguhi dengan pemandangan dari bebatuan yang cukup indah dan mempesona. Bahkan ada yang mengatakan, masuk Gua Petruk laksana melihat alam yang tiada taranya karena terdapat batu stalaktit dan stalagmit yang mempesona dan menyerupai berbagai bentuk.

Sedang gua yang terakhir, disebut Goa Petruk, karena dalam Goa tersebutlah sebetulnya terdapat batu yang mempunyai ujud seperti hidungnya Petruk. Sayang, karena ulah Belanda yang waktu itu melakukan penambangan phosfat, hidung Petruk yang merupakan Logo dari Goa tersebut putus dan kini sudah tak kelihatan lagi.

Tapi bukan itu sebetulnya yang ditawarkan oleh goa tersebut, di mana keindahan goa tersebut bukan dari hidung Petruk yang sangat mancung, tetapi panoramanya yang memang cukup indah. Untuk itu tidak ada salahnya kalau wisatawan bahkan memerlukan waktu berjam-jam berada di Goa Petruk ini.


Begitu memasuki mulut goa, dan kita masuk di gua Semar yang dikenal banyak senyum ini, memang gua ini menjanjikan kita untuk kagum dan mengagumi gua tersebut. Tak salah, kalau Diparta Kebumen memberinya nama Gua Semar. Sebab, di gua tersebut orang akan tersenyum kagum melihat stalagtit dan stalagmit yang aneh-aneh.

Batuan yang paling ujung di sini adalah batu yang diberinya nama Batu Payudara, atau orang menyebutnya sebagai batu susu. Tentu nama ini bukan sekedar mencari popularitasnya saja, yakni mengambil nama sedikit porno. Kenyataannya batuan stalagtit ini memang berbentuk seperti putik-putik seorang ibu yang sedang menyusui.

Stalagtit ini bukan satu dua, tetapi jumlahnya puluhan, sehingga orang sampai di ujung Gas Semar (gua kedua) di Gua Petruk ini diingatkan pada masa kanak-kanak, di mana kita semua tentu pernah menyusu pada Ibu dan ASI inilah yang membuat kita tumbuh menjadi remaja dan seterusnya.

Semakin kita masuk ke dalam Goa Petruk ini, kita semakin penasaran dengan batuan yang begitu indah. Sebab, di sini terdapat pula batuan yang mirip tempat tidur, atau pelaminan seorang pengantin baru. Ada lagi batu yang menyerupai sebuah lumbung padi, sehingga batuan tersebut di beri nama batu lumbung.

Jangan takut, kalau dalam Gua Petruk ini kita melihat sebuah batu yang mirip sekali dengan sebuah Mayit yang tergeletak. Bukan hanya bentuknya, tetapi warna dari batu tersebut memang tampak putih, bak sebuah kain mori yang membungkus sebuah Mayit yang siap untuk dimakamkan. Tetapi begitu indah bebatuannya.

Bukan Gua Petruk, kalau tidak menyimpan sejumlah bebatuan yang beraneka ragam bentuk yang begitu menawan, indah dan membuat orang yang melihatnya berdecak-decak kekaguman. Bahkan, membuat orang enggan keluar dari gua tersebut. Bukan tanpa alasan, kaerna dalam gua ini juga dapat terlihat adanya sejumlah sendang dan air terjun yang bahkan airnya mirip busa sabun.

Sambil menikmati bebatuan yang banyak aneka ragam dan bentuknya, telinga kita akan mendengarkan bunyi tik ...tik. .. tiiiikkkk, dari air yang jatuh dari langit gua, atau dari bebatuan yang indah, sehingga menambah kenyamanan kita untuk menyaksikan keajaiban Tuhan Pencipta Alam Semesta.

Untuk mengunjungi gua Petruk ini, sebaiknya kita telah mempersiapkan peralatan berupa sepatu dari plastik atau kare, sehingga tidak bisa tembus air. Tetapi, jangan gunakan sepatu yang berhak tinggi yang nantinya bahkan cukup merepotkan.

Peralatan lain yang perlu dipersiapkan adalah senter yang cukup terang dan topi untuk menghindari benturan. Bila perlu, kita bawa Kamera dengan lampu blitz yang baik. Dengan demikian kita bisa menyaksikan keindahan Stalagmit dan Stalaktit Gua Petruk sekaligus diabadikan. Sesampai di rumah, kalai diperlukan, photo-photo Gua Petruk ini bisa dipajang untuk hiasan dinding yang cukup indah

Pantai Ayah (Logending) Kebumen



Pantai Ayah, atau juga dikenal dengan sebutan Pantai Logending, adalah salah satu obyek wisata pantai yang berada di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Obyek wisata ini cukup terkenal karena memadukan antara wisata hutan dengan wisata bahari, yaitu Hutan Wisata Logending dan Pantai Ayah. Hutan Wisata Logending merupakan kawasan hutan jati milik Perum Perhutani Kedu Selatan yang berada di dekat pantai tersebut.

Menurut cerita masyarakat setempat, Pantai Ayah dan Hutan Logending pada zaman dulu pernah dijadikan sebagai tempat pengintaian dan pos penjagaan oleh tentara Belanda maupun Jepang sewaktu menjajah di Indonesia. Hal ini terbukti dengan adanya bekas peninggalan berupa benteng yang terletak di tepi pantai maupun di atas pegunungan Logending. Pada tahun 1948—1950, ketika terjadi revolusi di Indonesia, kawasan hutan Logending ini juga pernah dijadikan sebagai tempat persembunyian para pejuang TNI saat mempertahankan wilayah itu.

Keistimewaan Pantai AyahPantai yang berjarak sekitar 8 km dari obyek wisata Gua Jatijajar ini, memiliki pemandangan alam yang indah dengan air yang jernih, serta hamparan pasir yang luas dan landai. Di kawasan wisata ini, pengunjung dapat menghirup udara segar sambil berjalan-jalan menyusuri pantai. Tak hanya itu, wisatawan juga dapat bermain sepak bola, voli pantai, maupun duduk bersantai di atas pasir.

Setelah puas menikmati suasana pantai, pengunjung dapat menuju kawasan hutan Logending yang terletak puluhan meter dari pantai. Di dalam hutan ini terdapat berbagai macam tumbuhan yang merupakan tanaman lokal maupun mancanegara yang tergolong langka. Salah satu tumbuhan yang tergolong langka yang terdapat di dalam hutan ini adalah mahoni Afrika. Tumbuhan ini jarang terdapat di hutan-hutan lain di Indonesia pada umumnya. Karena alasan itulah, kemudian area hutan ini dijadikan sebagai tempat penelitian tanaman langka dan sekaligus pengembangan mahoni Afrika tersebut.

Obyek wisata lain yang tak kalah menarik untuk dikunjungi dan berada di kawasan obyek wisata Pantai Ayah adalah indahnya muara sungai Bodo, yaitu sungai yang memisahkan wilayah Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Cilacap. Untuk menikmati pemandangan sungai ini wisatawan dapat berkeliling dengan menyewa perahu nelayan setempat. Sepanjang sungai tersebut, pengunjung dapat melihat air Sungai Bodo yang tenang, rimbunnya pohon payau di tepian sungai, dan lebatnya pohon jati milik Perum Perhutani yang tampak tertata rapi dan menghijau.

Bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana obyek wisata ini pada malam hari, dapat mendirikan tenda-tenda perkemahan di lokasi perkemahan Perum Perhutani yang terletak di kawasan hutan jati tersebut. Area perkemahan yang luas, bersih, dan sejuk ini khusus diperuntukkan bagi wisatawan yang gemar camping sambil berwisata.

Lokasi Pantai AyahPantai Ayah terletak di Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Propinsi Jawa Tengah, Indonesia.

Akses ke Pantai Ayah

Untuk menuju obyek wisata ini, pengunjung dapat menggunakan kendaraan pribadi (mobil), maupun sarana angkutan umum (bus) dari Kebumen. Jika pengunjung menggunakan kendaraan pribadi dari Kota Kebumen, akan menempuh jarak kurang lebih 20 km sampai ke lokasi obyek wisata Pantai Ayah ini. Namun, bagi pengunjung yang ingin naik angkutan umum (bus), perjalanan dapat dimulai dari Terminal Kebumen. Dari terminal ini banyak bus yang melewati obyek wisata tersebut dengan waktu tempuh sekitar 1 jam perjalanan.

GOA JATIJAJAR


Gua Jatijajar adalah sebuah tempat wisata berupa gua alam yang terletak di desa Jatijajar, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Gua ini terbentuk dari batu kapur. Gua Jatijajar mempunyai panjang dari pintu masuk ke pintu keluar sepanjang 250 meter. Lebar rata-rata 15 meter dan tinggi rata-rata 12 meter sedangkan ketebalan langit-langit rata-rata 10 meter, dan ketingian dari permukaan laut 50 meter.
Sejarah
Gua ini ditemukan oleh seorang petani yang memiliki tanah di atas Gua tersebut yang Bernama "Jayamenawi". Pada suatu ketika Jayamenawi sedang mengambil rumput, kemudian jatuh kesebuah lobang, ternyata lobang itu adalah sebuah lobang ventilasi yang ada di langit-langit Gua tersebut. Lobang ini mempunyai garis tengah 4 meter dan tinggi dari tanah yang berada dibawahnya 24 meter.

Pada mulanya pintu-pintu Gua masih tertutup oleh tanah. Maka setelah tanah yang menutupi dibongkar dan dibuang, ketemulah pintu Gua yang sekarang untuk masuk. Karena di muka pintu Gua ada 2 pohon jati yang besar tumbuh sejajar, maka gua tersebut diberi nama Gua Jatijajar (Versi ke I).

Sungai dan mitos
Di dalam Gua Jatijajar terdapat 7 (tujuh) sungai atau sendang, tetapi yang data dicapai dengan mudah hanya 4 (empat) sungai yaitu:

Sungai Puser Bumi
Sungai Jombor
Sungai Mawar
Sungai Kantil
Untuk sungai Puser Bumi dan Jombor konon airnya mempunyai khasiat dapat digunakan untuk segala macam tujuan menurut kepercayaan masing-masing. Sedangkan Sungai Mawar konon airnya jika untuk mandi atau mencuci muka, mempunyai khasiat bisa awet muda. Adapun Sendang kantil jika airnya untuk cuci muka atau mandi, maka niat/cita-citanya akan mudah tercapai.

Pada saat ini yang telah dibangun baru Sendang Mawar dan Sendang Kantil, Sedangkan Sendang Jombor dan Sendang Puser Bumi masih alami dan masih belum ada penerangan serta licin.

Obyek wisata
Pada tahun 1975 Gua Jatijajar mulai dibangun dan dikembangkan menjadi Objek Wisata. Adapun yang mempunyai ide untuk mengembangkan atau membangun Gua Jatijajar yaitu Bapak Suparjo Rustam sewaktu menjadi Gubernur Jawa Tengah. Sedang pada waktu itu yang menjadi Bupati Kebumen adalah Bapak Supeno Suryodiprojo.

Untuk melancarkan dan melaksanakan pengembangan Gua Jatijajar ditunjuk langsung oleh Bapak Suparjo Rustam cv.AIS dari Yogyakarta, sebagai pimpinan dari cv.AIS adalah Bapak Saptoto, seorang seniman deorama yang terkenal di Indonesia. Sebelum Pemda Kebumen melaksanakan pembagunan Gua Jatijajar, terlebih dahulu Pemda Kebumen telah mengganti rugi tanah penduduk yang terkena lokasi pembangunan Objek Wisata Gua Jatijajar Seluas 5,5 hektare.

Setelah Gua Jatijajar dibangun maka pengelolanya dikelola oleh Pemda Kebumen. Sejak Gua Jatijajar dibangun, di dalam Gua Jatijajar sudah ditambah dengan bangunan-bangunan seni antara lain: pemasangan lampu listrik sebagai penerangan, trap-trap beton untuk memberikan kemudahan bagi para wisatawan yang masuk ke dalam Gua Jatijajar serta pemasangan patung-patung atau deorama.

Batuan
Di dalam Gua Jatijajar banyak terdapat Stalagmit dan juga Pilar atau Tiang Kapur, yaitu pertemuan antara Stalagtit dengan Stalagmit. Kesemuanya ini terbentuk dari endapan tetesan air hujan yang sudah bereaksi dengan batu-batu kapur yang ditembusnya. Menurut penelitian para ahli, untuk pembentukan Stalagtit itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Dalam satu tahun terbentuknya Stalagtit paling tebal hanya setebal 1 (satu) cm saja. Oleh sebab itu Gua Jatijajar merupakan gua Kapur yang sudah tua sekali.

Batu-batuan yang ada di Gua Jatijajar merupakan batuan yang sudah tua sekali. Karena umur yang sudah tua sekali itu, maka di muka Gua Jatijajar dibangun sebuah patung Binatang Purba Dino Saurus sebagai simbol dari Objek Wisata Gua Jatijajar, dari mulut patung itu keluar air dari Sendang Kantil dan sendang Mawar, yang sepanjang tahun belum pernah kering. Sedangkan air yang keluar dari patung Dino Saurus tersebut dimanfaatkan oleh penduduk sekitar sebagai pengairan sawah desa Jatijajar dan sekitarnya.

Diorama
Diorama yang di pasang dan dalam Gua Jatijajar ada 8 (delapan) deorama, yang patung-patungnya ada 32 buah. Keseluruhannya mengisahkan cerita Legenda dari "Raden Kamandaka - Lutung Kasarung". Adapun kaitannya dengan Gua Jatijajar ialah, dahulu kala Gua Jatijajar pernah digunakan untuk bertapa oleh Raden Kamandaka Putera Mahkota dari Kerajaan Pajajaran, yang bernama aslinya Banyak Cokro atau Banyak Cakra.

Perlu diketahui bahwa zaman dahulu sebagian dari wilayah Kabupaten Kebumen, adalah termasuk wilayah kekuasaan Pajajaran, yang pusat pemerintahannya di Bogor (Batutulis) Jawa Barat.

Adapun batasnya yaitu Kali Lukulo dari Kabupaten Kebumen sebelah Timur Kali Lukulo masuk ke wilayah Kerajaan Mojopahit, sedangkan sebelah barat Kali Lukulo masuk wilayah Kerajaan Pajajaran. Sedangkan cerita itu terjadinya di kabupaten Pasir Luhur, yaitu daerah Baturaden atau Purwokerto pada abad ke-14. Namun keseluruhan dioramanya dipasang di dalam Gua Jatijajar.