Wednesday, August 26, 2015
Museum Kreta Api AMBARAWA
Sunday, August 24, 2014
Jembangan Wisata Alam
Jembangan Wisata Alam terletak di kecamatan Poncowarno Kebumen. Waduk ini tak kalah menarik dari dua waduk lainnya yaitu waduk sempor dan waduk wadaslintang. Waduk Jembangan terletak di kawaasan pegunungan kecamatan Poncowarno Kebumen. Tempatnya sangat indah, dan sangat layak untuk wisata alam besama keluarga anda. Utamanya untuk mengenalkan kepada anak-anak terkait keindahan alam pegunungan serta merawat dan melestarikannya. Maju terus wisata Kebumen , dengan munculnya waduk jembangan akan menambah potensi income masyarakat maupun pemerintah.
wisata jembangan
Jembangan Wisata Alam (JWA) merupakan salah satu kawasan objek wisata yang ada di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kawasan objek wisata ini terbilang masih baru, didirikan pada tahun 2011 oleh Bupati Kebumen yang baru terpilih yaitu H.Buyar Winarso, S.E. Kawasan objek wisata JWA menawarkan pemandangan telaga hijau dengan hutan hijau bersisian di sampingnya, di bagian ujung telaga ini dimanfaatkan sebagai bendungan air yaitu bendungan Pejengkolan, terusan pintu air bagian timur dari waduk Wadaslintang yang berada di Kabupaten Kebumen. Untuk menuju kawasan JWA ini di pintu masuk anda akan dikenai biaya tiket Rp 3000 dan biaya parkir Rp 2000/motor.
Site Utama
Di dalam kawasan JWA ini terdapat tiga site utama yang dapat dinikmati oleh pengunjung yaitu Telaga hijau yang bersisian dengan hutan yang masih alami, Waduk Pejengkolan dan Jembatan Gantung.
Untuk berkeliling menikmati telaga Jembangan yang bersisisan dengan hutan hijau dapat menggunakan wahana perahu air. Sementara untuk menuju jembatan waduk Pejengkolan dan Jembatan gantung anda sama sekali tidak dikenakan biaya. Namun letak kedua objek ini agak jauh dari kawasan utama telaga. Jembatan Waduk Pejengkolan terletak di sisi kanan pintu masuk sementara Jembatan Gantung terletak di sebelah kiri pintu masuk. Sebenarnya anda dapat menikmati kedua objek ini tanpa repot-repot menuju lokasinya langsung dengan menggunakan perahu mesin, namun tentu akan dikenai biaya tambahan jika anda meminta mengunjungi kedua jembatan ini karena lokasinya yang memang cukup jauh dari dermaga tempat perahu mesin bersandar. Namun kedua jembatan ini tidak kalah menariknya, Jembatan Pejengkolan merupakan jembatan permanen dari beton dan sudah beraspal dengan panjang kurang lebih 500 meter, sementara Jembatan Gantung merupakan jembatan semi permanen dengan bangunan beton besi di kedua ujungnya dan jembatannya itu sendiri terbuat dari papan kayu yang digantung.
Wahana
Selain menawarkan pemandangan telaga hijau yang luas, di kawasan JWA ini juga menawarkan berbagai wahana untuk belajar atau permainan anak-anak seperti Jembangan Fantasy Zoo, Wahana permainan anak dan Perahu air.
Jembangan Fantasy Zoo merupakan wahana belajar satwa bagi anak. Di wahana ini tersedia berbagai satwa yang sengaja didatangkan dari Kabupaten seperti aneka burung, gajah, kera dan lain sebagainya. Kebanyakan yang mengunjungi wahana ini merupakan siswa-siswi pelajar tingkat sekolah dasar yang datang berombongan didampingi oleh guru-guru mereka. Tiket masuk menuju wahana ini Rp 5000/orang.
Wahana permainan anak yang tersedia layaknya wahana permainan untuk anak-anak pada umumnya seperti perosotan,ayunan, wahana putaran untuk anak dan lain sebagainya. Tiket masuk wahana ini berkisar Rp 3000-5000/orang.
Perahu air ini dinikmati pengunjung untuk berkeliling menyusuri luasnya telaga Jembangan. Jenis perahu air ini terdiri dari dua macam yaitu perahu air unitkecil menggunakan tenaga manusia yaitu dengan gowes layaknya sepeda, dan perahu air unit besar berbentuk naga yang menggunakan tenaga mesin untuk mengoperasikannya. Perahu unit kecil disewakan dengan harga per unit Rp 15.000 untuk kapasitas dua orang/30 menit. Sementara Perahu unit besar disewakan dengan harga Rp 15.000/orang. Perahu unit besar ini enak dinikamti jika anda datang secara berombongan.
Aksesibilitas
Kawasan JWA tereletak di desa Jembangan, Kecamatan Poncowarno, Kabupaten Kebumen. Kecamatan Poncowarno ini merupakan Kecamatan yang terletak pada dataran tinggi. Prasara menuju lokasi kawasan wisata ini sudah sangat mendukung, yaitu jalan mulus beraspal hitam mengkilap, jalan berkelok-kelok mengikuti topografi yang ada. Namun prasarana yang ada tidak didukung dengan sarana transportasi yang baik. Tidak ada sarana transportasi umum untuk menuju lokasi kawasan JWA ini. Kawasan JWA hanya bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi berjarak kurang lebih 20 Km dari Kebumen Kota. Dengan kata lain lokasi ini aksesibilitasnya masih rendah. Hal ini wajar, jika pengunjung kawasan JWA ini masih terbilang jarang. Padahal publikasi dari dinas pariwisatanya sendiri sudah dilakukan secara gencar.
Geografi Pariwisata
Dalam studi Geografi Pariwisata, selain objek yang menarik (Site Attraction), pelayanan dan fasilitas yang tersedia, yang dapat mendukung majunya industri pariwisata adalah kemudahan aksesibilitas dan didukung oleh promosi. Aksesibilitas ini berhubungan dengan letak geografis dan kemudahan jangkauan transportasi umum menuju lokasi wisata. Oleh karena itu pemerintah dan dinas terkait (Dinas Pariwisata) harus menyediakan sarana transportasi publik menuju kawasan JWA ini agar bisa diakses oleh orang-orang yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Apalagi Kawasan JWA merupakan ikon terbaru dari Kabupaten Kebumen. Harapan kedepannya dengan dibukanya kawasan JWA sebagai objek wisata baru, dapat mengenalkan potensi Kabupaten Kebumen kepada khalayak umum sehingga meningkatkan pendapatan daerah dari sektor wisata.
Sekilas Tentang Goa Barat Di Kebumen
Terdapat air terjun dengan ketinggian 8 meter yang disebut Jump Ulysses yang artinya adalah “sang petualang cerdik” dalam mitologi Yunani. Dalam udara pengap disertai suara gemuruh air, para petualang melakukan penjelajahan ke dalam gua yang gelap gulita.
Kurang lebih 20 meter dari Jump Ulysses terdapat air terjun yang lebih tinggi denga ketinggian 32 meter dan diberi nama Superman’s Big Sister.
Bebatuan runcing yang menjulur dari atas langit-langit gua atau biasa disebut stalaktit banyak ditemukan di dalam gua ini, menambah suasana di dalam gua sangat unik dan menakjubkan.
Karena banyaknya jeram di dalamnya, Gua Barat merupakan gua yang paling berat untuk dijelajahi. Para petualang harus berani dan tangguh untuk menelusuri lorong besar Gua Barat yang gelap dan pengap.
Nama Superman’s Big Sister diberikan oleh Cahyo Alkantana, seorang pria yang pertama kali berhasil menerobos Gua Barat hingga hampir mencapai ujung ketika tahun 1996 lalu. Bersama dengan tim gabungan Indonesia-Prancis, dia menelusuri Gua Barat yang besar dan mengagumkan
Dari 100 air terjun yang terdapat di lorong Gua Barat ini, mereka berada pada ruas 2 kilometer terakhir setelah Jump Ulysses sampai Muddy Passage, kira-kira 200 meter dari pintu keluar bernama Tataquine.
Di mulut gua ini para petualang memulai dan mengakhiri penjelajahan. Nama Gua Barat ini sesuai dengan karakter alamiah mereka, yaitu angin kencang dari arah dalam seringkali menerpa mulut gua. Angin kencang tersebut dalam bahasa Jawa dijuluki angin barat
Angin barat adalah angin kencang yang datang pada musim tertentu dan biasanya disertai dengan munculnya jamur di tanah. Sehingga masyarakat menyebutnya jamur barat, artinya jamur yang dikeluarkan oleh angin barat.
Di Gombong Selatan, kebumen Jawa Tengah, tepatnya di Desa redisari kec Rowokele disana terdapat gua menakjubkan yang paling menantang di dunia, dialah Gua Barat. Thanks to Www.Tempo.Co.
Wisata Pantai Di Kebumen
Wisata pantai di kabupaten kebumen tidak kalah dg pantai pantai d daerah lain
Dari kebumen daerah barat ada Pantai Ayah di desa Ayah kec. Ayah
Ke timur ada pantai pasir di desj Pasir kec. Ayah
Ketimur lagi ada pantai karangbolong di desa Karangbolong. kec. Ayah
Sebelah timurnya lagi ada pantai suwuk di kec puring
Dan di timurnya lagi ada pantai petanahan di desa petanahan kec. Petanahan
Timurnya lg ada pantai bocor.. dan masih banyak lagi lainya...
Saturday, August 9, 2014
Visi Dan Misi Desa Demangsari dan Gambaran Umum dan Sejarah Desa Demangsari
Sunday, August 3, 2014
Titik Nol KM Kota Jogja (Malioboro)
Malioboro Kala malam hari
Tugu Yogyakarta
Wednesday, May 7, 2014
Legenda Goa Petruk
Kesetiaan Punakawan (Ki Lurah Semar, Gareng, Petruk, dan Bawor/Bagong) pada Junjungannya tidak diragukan lagi, sekalipun menjalani kesengsaraan, mereka tak pernah berpaling. Meski berdiam di hutan belantara, demi menemani Junjungannya yang sedang bertapa, dengan sabar dan ikhhlas mereka lalui. Hidup sederhana, bersahaja menjadi takdir yang tak bisa dipungkiri. Namun, disekitar merakalah Dewata Yang Agung menurunkan Wahyu yang selalu menjadi perebutan para Kesatria di Bumi. Dikisahkan seorang Begawan bernama Mentaraga yang menjalankan tapa-barata menjelang pecahnya perang Baratayudha. Sang Begawan menjalankan tapa-bratanya di goa Andrakila. Sangat mengherankan ketika sang Begawan diiringi oleh Punakawan, yang selama ini Punakawan lebih dikenal dekat dengan Raden Arjuna (putra Pandawa ke tiga). Sementara Begawan Mentaraga bertapa didalam Goa, para Punakawan dengan setianya menanti diluar Goa. Perang Baratayudha demikian menarik perhatian para Kesatria bahkan Resi, Empu, dan Brahmana. Sekalipun sudah menjadi takdir Dewata Yang Agung. Namun, upaya mengelak bahkan menggagalkan senantiasa dilakukan oleh para Imam Suci (Resi, Empu, dan Brahmana), supaya tidak ada jatuh korban dari kedua belah pihak. Dua kekuatan besar antara Pandawa dan Kurawa, belum lagi kekuatan lain yang mendukung keduanya. Sang Begawan sadar perang Baratayuda tidak dapat dihindarkan. Setelah sekian lama berlalu, Begawan Mentaraga belum juga keluar dari pertapaannya, penantian tak kunjung usai, keresahan pun mulai dirasakan Ki Lurah Semar hingga berujung pada tekat Ki Lurah Semar untuk melihat apa yang terjadi didalam Goa. Bersama Petruk, Ki Lurah Semar menerobos masuk Goa Andrakila untuk memastikan kondisi Junjungannya, sementara Gareng dan Bawor tetap menanti diluar Goa. Namun apa yang terjadi sungguh diluar dugaan mereka, Begawan Mentaraga tidak dijumpai seakan lenyap ditelan Bumi. Terlanjur masuk kedalam Goa, Ki Lurah Semar dan Petruk akhirnya memutuskan untuk bertapa. Wahyu Baratayudha menjadi harapan Ki Lurah Semar, sementara Petruk meminta petunjuk untuk dapat bertemu orang tuanya yaitu Gandarwo Seto. Setelah mendapatkan wahyu yang diharapkan keduanya pun bergegas keluar dari dalam goa tetapi menempuh lorong yang berbeda. Sementara Ki Lurah Semar kembali ketempat Gareng dan Bawor, tetapi Petruk tak kunjung datang. Mereka pun mencari keberadaan Petruk, hingga akhirnya Petruk ditemukan sedang duduk santai dipinggir pantai. Demikian kisah yang melatarbelakangi keberadaan Goa Andrakila yang konon terdapat patung petruk yang sedang berdiri yodong menerima wahyu dari Dewata Yang Agung. Oleh karena itu, goa ini mulai di kenal dengan nama Goa Petruk. “Pada saat-saat tertentu, didinding goa sering terlihat sosok bayangan yang menyerupai Petruk, apabila didekati bayangan tersebut menghilang.� kata Mbah Rudin (74), Juru kunci Goa Andrakila. Goa Petruk terletak di Desa Candi Renggo, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Goa ini berada diatas bukit kapur dengan ketinggian 75 M diatas permukaan laut. Goa Petruk memiliki dua lorong yang panjang, pada lorong kanan panjangnya mencapai 2000 M, sedangkan pada lorong kiri 664 M. Selain memiliki lorong yang panjang, Goa Petruk memiliki tiga tingkat atau tiga susun diatasnya. Tingkat pertama medannya cukup nyaman dan mudah dijangkau oleh pengunjung untuk wisata alam juga penelitian. Pada tingkat kedua konon terdapat patung Petruk berdiri nyodong (mengulurkan tangan), karena ulah penambangan Pospat oleh VOC Belanda yang menggunakan bahan peledak maka patung Petruk ikut runtuh, sehingga saat ini patung petruk sudah tidak ditemukan lagi. Pada tingkat ketiga medannya sangat sulit untuk pengunjung, lokasi ini hanya dapat dijangkau menggunakan alat panjat tebing.(topik)
sumber:http://bit.ly/1opuoyH
Gua Petruk
GOA PETRUK
merupakan salah Obyek wisata di Kabupaten Kebumen,Jawa Tengah. Pantai Logending, dimana lokasinya berada di dukuh Mandayana Desa Candirenggo Kecamatan Ayah, kabupaten Kebumen, Jawa Tengah atau sekitar 4,5 km dari Jatijajar menuju ke arah selatan.
Mendengar nama Petruk, orang tentu akan teringat nama Ponokawan anak Ki Semar yang berbadan tinggi, namun hidungnya sangat mancung. Konon, dalam cerita pewayangan, Petruk ini anak dari lelembut Banaspati yang kemudian diambil anak oleh Ki Semar dan Petruk ini dikenal mempunyai banyak akal.
Perlu diketahui, bahwa di dalam Goa yang mungkin terlihat cukup menakutkan, karena tak ada pijaran atau nyala lampu seperti di Goa Jatijajar, atau Goa lain yang ada di Indonesia.
pengunjung jangan khawatir, di sini tersedia Guide atau pemandu yang selalu siap mengantar disertai dengan peralatan lampu yang memadai.
Tiga Goa Goa Petruk ini sebetulnya terbagimenjadi tiga bagian. Bagian pertama atau di lantai I hanya terdapat kelelawar dengan bau kurang sedap dan beterbangan ke sana kemari. Sedang untuk Goa kedua dalam lokasi tersebut diberi nama Goa Semar.
Dalam Goa inilah kita akan disuguhi dengan pemandangan dari bebatuan yang cukup indah dan mempesona. Bahkan ada yang mengatakan, masuk Gua Petruk laksana melihat alam yang tiada taranya karena terdapat batu stalaktit dan stalagmit yang mempesona dan menyerupai berbagai bentuk.
Sedang gua yang terakhir, disebut Goa Petruk, karena dalam Goa tersebutlah sebetulnya terdapat batu yang mempunyai ujud seperti hidungnya Petruk. Sayang, karena ulah Belanda yang waktu itu melakukan penambangan phosfat, hidung Petruk yang merupakan Logo dari Goa tersebut putus dan kini sudah tak kelihatan lagi.
Tapi bukan itu sebetulnya yang ditawarkan oleh goa tersebut, di mana keindahan goa tersebut bukan dari hidung Petruk yang sangat mancung, tetapi panoramanya yang memang cukup indah. Untuk itu tidak ada salahnya kalau wisatawan bahkan memerlukan waktu berjam-jam berada di Goa Petruk ini.
Begitu memasuki mulut goa, dan kita masuk di gua Semar yang dikenal banyak senyum ini, memang gua ini menjanjikan kita untuk kagum dan mengagumi gua tersebut. Tak salah, kalau Diparta Kebumen memberinya nama Gua Semar. Sebab, di gua tersebut orang akan tersenyum kagum melihat stalagtit dan stalagmit yang aneh-aneh.
Batuan yang paling ujung di sini adalah batu yang diberinya nama Batu Payudara, atau orang menyebutnya sebagai batu susu. Tentu nama ini bukan sekedar mencari popularitasnya saja, yakni mengambil nama sedikit porno. Kenyataannya batuan stalagtit ini memang berbentuk seperti putik-putik seorang ibu yang sedang menyusui.
Stalagtit ini bukan satu dua, tetapi jumlahnya puluhan, sehingga orang sampai di ujung Gas Semar (gua kedua) di Gua Petruk ini diingatkan pada masa kanak-kanak, di mana kita semua tentu pernah menyusu pada Ibu dan ASI inilah yang membuat kita tumbuh menjadi remaja dan seterusnya.
Semakin kita masuk ke dalam Goa Petruk ini, kita semakin penasaran dengan batuan yang begitu indah. Sebab, di sini terdapat pula batuan yang mirip tempat tidur, atau pelaminan seorang pengantin baru. Ada lagi batu yang menyerupai sebuah lumbung padi, sehingga batuan tersebut di beri nama batu lumbung.
Jangan takut, kalau dalam Gua Petruk ini kita melihat sebuah batu yang mirip sekali dengan sebuah Mayit yang tergeletak. Bukan hanya bentuknya, tetapi warna dari batu tersebut memang tampak putih, bak sebuah kain mori yang membungkus sebuah Mayit yang siap untuk dimakamkan. Tetapi begitu indah bebatuannya.
Bukan Gua Petruk, kalau tidak menyimpan sejumlah bebatuan yang beraneka ragam bentuk yang begitu menawan, indah dan membuat orang yang melihatnya berdecak-decak kekaguman. Bahkan, membuat orang enggan keluar dari gua tersebut. Bukan tanpa alasan, kaerna dalam gua ini juga dapat terlihat adanya sejumlah sendang dan air terjun yang bahkan airnya mirip busa sabun.
Sambil menikmati bebatuan yang banyak aneka ragam dan bentuknya, telinga kita akan mendengarkan bunyi tik ...tik. .. tiiiikkkk, dari air yang jatuh dari langit gua, atau dari bebatuan yang indah, sehingga menambah kenyamanan kita untuk menyaksikan keajaiban Tuhan Pencipta Alam Semesta.
Untuk mengunjungi gua Petruk ini, sebaiknya kita telah mempersiapkan peralatan berupa sepatu dari plastik atau kare, sehingga tidak bisa tembus air. Tetapi, jangan gunakan sepatu yang berhak tinggi yang nantinya bahkan cukup merepotkan.
Peralatan lain yang perlu dipersiapkan adalah senter yang cukup terang dan topi untuk menghindari benturan. Bila perlu, kita bawa Kamera dengan lampu blitz yang baik. Dengan demikian kita bisa menyaksikan keindahan Stalagmit dan Stalaktit Gua Petruk sekaligus diabadikan. Sesampai di rumah, kalai diperlukan, photo-photo Gua Petruk ini bisa dipajang untuk hiasan dinding yang cukup indah
Pantai Ayah (Logending) Kebumen
Pantai Ayah, atau juga dikenal dengan sebutan Pantai Logending, adalah salah satu obyek wisata pantai yang berada di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Obyek wisata ini cukup terkenal karena memadukan antara wisata hutan dengan wisata bahari, yaitu Hutan Wisata Logending dan Pantai Ayah. Hutan Wisata Logending merupakan kawasan hutan jati milik Perum Perhutani Kedu Selatan yang berada di dekat pantai tersebut.
Menurut cerita masyarakat setempat, Pantai Ayah dan Hutan Logending pada zaman dulu pernah dijadikan sebagai tempat pengintaian dan pos penjagaan oleh tentara Belanda maupun Jepang sewaktu menjajah di Indonesia. Hal ini terbukti dengan adanya bekas peninggalan berupa benteng yang terletak di tepi pantai maupun di atas pegunungan Logending. Pada tahun 1948—1950, ketika terjadi revolusi di Indonesia, kawasan hutan Logending ini juga pernah dijadikan sebagai tempat persembunyian para pejuang TNI saat mempertahankan wilayah itu.
Keistimewaan Pantai AyahPantai yang berjarak sekitar 8 km dari obyek wisata Gua Jatijajar ini, memiliki pemandangan alam yang indah dengan air yang jernih, serta hamparan pasir yang luas dan landai. Di kawasan wisata ini, pengunjung dapat menghirup udara segar sambil berjalan-jalan menyusuri pantai. Tak hanya itu, wisatawan juga dapat bermain sepak bola, voli pantai, maupun duduk bersantai di atas pasir.
Setelah puas menikmati suasana pantai, pengunjung dapat menuju kawasan hutan Logending yang terletak puluhan meter dari pantai. Di dalam hutan ini terdapat berbagai macam tumbuhan yang merupakan tanaman lokal maupun mancanegara yang tergolong langka. Salah satu tumbuhan yang tergolong langka yang terdapat di dalam hutan ini adalah mahoni Afrika. Tumbuhan ini jarang terdapat di hutan-hutan lain di Indonesia pada umumnya. Karena alasan itulah, kemudian area hutan ini dijadikan sebagai tempat penelitian tanaman langka dan sekaligus pengembangan mahoni Afrika tersebut.
Obyek wisata lain yang tak kalah menarik untuk dikunjungi dan berada di kawasan obyek wisata Pantai Ayah adalah indahnya muara sungai Bodo, yaitu sungai yang memisahkan wilayah Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Cilacap. Untuk menikmati pemandangan sungai ini wisatawan dapat berkeliling dengan menyewa perahu nelayan setempat. Sepanjang sungai tersebut, pengunjung dapat melihat air Sungai Bodo yang tenang, rimbunnya pohon payau di tepian sungai, dan lebatnya pohon jati milik Perum Perhutani yang tampak tertata rapi dan menghijau.
Bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana obyek wisata ini pada malam hari, dapat mendirikan tenda-tenda perkemahan di lokasi perkemahan Perum Perhutani yang terletak di kawasan hutan jati tersebut. Area perkemahan yang luas, bersih, dan sejuk ini khusus diperuntukkan bagi wisatawan yang gemar camping sambil berwisata.
Lokasi Pantai AyahPantai Ayah terletak di Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Propinsi Jawa Tengah, Indonesia.
Akses ke Pantai Ayah
Untuk menuju obyek wisata ini, pengunjung dapat menggunakan kendaraan pribadi (mobil), maupun sarana angkutan umum (bus) dari Kebumen. Jika pengunjung menggunakan kendaraan pribadi dari Kota Kebumen, akan menempuh jarak kurang lebih 20 km sampai ke lokasi obyek wisata Pantai Ayah ini. Namun, bagi pengunjung yang ingin naik angkutan umum (bus), perjalanan dapat dimulai dari Terminal Kebumen. Dari terminal ini banyak bus yang melewati obyek wisata tersebut dengan waktu tempuh sekitar 1 jam perjalanan.
GOA JATIJAJAR
Gua Jatijajar adalah sebuah tempat wisata berupa gua alam yang terletak di desa Jatijajar, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Gua ini terbentuk dari batu kapur. Gua Jatijajar mempunyai panjang dari pintu masuk ke pintu keluar sepanjang 250 meter. Lebar rata-rata 15 meter dan tinggi rata-rata 12 meter sedangkan ketebalan langit-langit rata-rata 10 meter, dan ketingian dari permukaan laut 50 meter.
Sejarah
Gua ini ditemukan oleh seorang petani yang memiliki tanah di atas Gua tersebut yang Bernama "Jayamenawi". Pada suatu ketika Jayamenawi sedang mengambil rumput, kemudian jatuh kesebuah lobang, ternyata lobang itu adalah sebuah lobang ventilasi yang ada di langit-langit Gua tersebut. Lobang ini mempunyai garis tengah 4 meter dan tinggi dari tanah yang berada dibawahnya 24 meter.
Pada mulanya pintu-pintu Gua masih tertutup oleh tanah. Maka setelah tanah yang menutupi dibongkar dan dibuang, ketemulah pintu Gua yang sekarang untuk masuk. Karena di muka pintu Gua ada 2 pohon jati yang besar tumbuh sejajar, maka gua tersebut diberi nama Gua Jatijajar (Versi ke I).
Sungai dan mitos
Di dalam Gua Jatijajar terdapat 7 (tujuh) sungai atau sendang, tetapi yang data dicapai dengan mudah hanya 4 (empat) sungai yaitu:
Sungai Puser Bumi
Sungai Jombor
Sungai Mawar
Sungai Kantil
Untuk sungai Puser Bumi dan Jombor konon airnya mempunyai khasiat dapat digunakan untuk segala macam tujuan menurut kepercayaan masing-masing. Sedangkan Sungai Mawar konon airnya jika untuk mandi atau mencuci muka, mempunyai khasiat bisa awet muda. Adapun Sendang kantil jika airnya untuk cuci muka atau mandi, maka niat/cita-citanya akan mudah tercapai.
Pada saat ini yang telah dibangun baru Sendang Mawar dan Sendang Kantil, Sedangkan Sendang Jombor dan Sendang Puser Bumi masih alami dan masih belum ada penerangan serta licin.
Obyek wisata
Pada tahun 1975 Gua Jatijajar mulai dibangun dan dikembangkan menjadi Objek Wisata. Adapun yang mempunyai ide untuk mengembangkan atau membangun Gua Jatijajar yaitu Bapak Suparjo Rustam sewaktu menjadi Gubernur Jawa Tengah. Sedang pada waktu itu yang menjadi Bupati Kebumen adalah Bapak Supeno Suryodiprojo.
Untuk melancarkan dan melaksanakan pengembangan Gua Jatijajar ditunjuk langsung oleh Bapak Suparjo Rustam cv.AIS dari Yogyakarta, sebagai pimpinan dari cv.AIS adalah Bapak Saptoto, seorang seniman deorama yang terkenal di Indonesia. Sebelum Pemda Kebumen melaksanakan pembagunan Gua Jatijajar, terlebih dahulu Pemda Kebumen telah mengganti rugi tanah penduduk yang terkena lokasi pembangunan Objek Wisata Gua Jatijajar Seluas 5,5 hektare.
Setelah Gua Jatijajar dibangun maka pengelolanya dikelola oleh Pemda Kebumen. Sejak Gua Jatijajar dibangun, di dalam Gua Jatijajar sudah ditambah dengan bangunan-bangunan seni antara lain: pemasangan lampu listrik sebagai penerangan, trap-trap beton untuk memberikan kemudahan bagi para wisatawan yang masuk ke dalam Gua Jatijajar serta pemasangan patung-patung atau deorama.
Batuan
Di dalam Gua Jatijajar banyak terdapat Stalagmit dan juga Pilar atau Tiang Kapur, yaitu pertemuan antara Stalagtit dengan Stalagmit. Kesemuanya ini terbentuk dari endapan tetesan air hujan yang sudah bereaksi dengan batu-batu kapur yang ditembusnya. Menurut penelitian para ahli, untuk pembentukan Stalagtit itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Dalam satu tahun terbentuknya Stalagtit paling tebal hanya setebal 1 (satu) cm saja. Oleh sebab itu Gua Jatijajar merupakan gua Kapur yang sudah tua sekali.
Batu-batuan yang ada di Gua Jatijajar merupakan batuan yang sudah tua sekali. Karena umur yang sudah tua sekali itu, maka di muka Gua Jatijajar dibangun sebuah patung Binatang Purba Dino Saurus sebagai simbol dari Objek Wisata Gua Jatijajar, dari mulut patung itu keluar air dari Sendang Kantil dan sendang Mawar, yang sepanjang tahun belum pernah kering. Sedangkan air yang keluar dari patung Dino Saurus tersebut dimanfaatkan oleh penduduk sekitar sebagai pengairan sawah desa Jatijajar dan sekitarnya.
Diorama
Diorama yang di pasang dan dalam Gua Jatijajar ada 8 (delapan) deorama, yang patung-patungnya ada 32 buah. Keseluruhannya mengisahkan cerita Legenda dari "Raden Kamandaka - Lutung Kasarung". Adapun kaitannya dengan Gua Jatijajar ialah, dahulu kala Gua Jatijajar pernah digunakan untuk bertapa oleh Raden Kamandaka Putera Mahkota dari Kerajaan Pajajaran, yang bernama aslinya Banyak Cokro atau Banyak Cakra.
Perlu diketahui bahwa zaman dahulu sebagian dari wilayah Kabupaten Kebumen, adalah termasuk wilayah kekuasaan Pajajaran, yang pusat pemerintahannya di Bogor (Batutulis) Jawa Barat.
Adapun batasnya yaitu Kali Lukulo dari Kabupaten Kebumen sebelah Timur Kali Lukulo masuk ke wilayah Kerajaan Mojopahit, sedangkan sebelah barat Kali Lukulo masuk wilayah Kerajaan Pajajaran. Sedangkan cerita itu terjadinya di kabupaten Pasir Luhur, yaitu daerah Baturaden atau Purwokerto pada abad ke-14. Namun keseluruhan dioramanya dipasang di dalam Gua Jatijajar.





